LAMPUNG ONLINE - Kapolda Metro Jaya Irjen Tito Karnavian menduga pembunuhan warga negara Jepang berinisial YM, di Apartemen Casa Crande Montreal Casablanca, Jakarta Selatan, telah direncanakan. Sebab, pelaku sudah tiga kali merusak pintu kamar korban dengan cara memasukkan kertas.
"Tersangka menyumbat lubang kunci menggunakan potongan kertas dengan maksud agar korban meminta bantuan kepada tersangka untuk membetulkan pintu," kata Tito di Polda Metro Jaya, Jakarta, seperti dilansir dari Merdeka pada Senin (14/9/2015).
Menurut Tito, setelah korban meninggal dunia, tersangka pembunuh dan perampokan warga negara Jepang berinisial M yang ditangkap di Lampung, mengambil barang-barang berupa uang Rp 7 juta, USD 19 juta dan handphone. Namun korban melakukan perlawaan, saat pelaku mencekik lehernya.
"Tanda tanda kekerasan penganiayaan mulai dari luka cekikan, hasil visum belum ada keterangan seksual. Motif pembunuhan mengambil barang, uang, peralatan lain, handphone, dan emas berlian," kata dia.
Menurut Tito, saat ditangkap pelaku tidak melakukan perlawanan. Tersangka M melarikan diri dari Jakarta ke Lampung dengan alasan mengantarkan orangtuanya.
"Setelah masuk ke dalam korban masuk ke kamar. Masuk lampu dimatiin pintu dikunci. Kepala di bawah lantai. Dia di atas korban sudah tiada," tukas dia.
Beri Istri Rp 9 Juta
Sebelum melarikan diri ke Lampung, M sempat memberikan uang hasil rampokannya sebesar Rp 9 juta kepada istrinya di rumah kontrakannya di Ciracas, Jakarta Timur. Pelaku juga diketahui sempat membuang pakaian korban yang penuh darah di dekat rumahnya.
"Hanya dibuka, baju luar saja. Lalu baju ditaruh plastik. Dibuang di bawa di Ciracas. Dia sempat pulang ngasih Rp 9 juta ke istrinya. Dia tuker uang ke PGC. Pelarian dia dari Casagrande ke rumah, terus ke Lampung besok," kata Kasubdit III Dirkrimum Polda Metro Jaya AKBP Eko Hadi Santoso di Polda Metro Jaya, Jakarta.
Menurut Eko, alasan pelaku melarikan diri ke Lampung karena mau mengantarkan orangtuanya yang kebetulan kata pelaku sedang berada di rumah kontrakannya di Ciracas, Jakarta Timur. Namun setelah mendapat informasi keberadaannya, kata Eko, polisi akhirnua menangkap pelaku saat berada di dalam bus dengan tujuan ke Jakarta.
"Pelaku ada motif ekonomi. Keluarga juga kurang. Bagaimana caranya tersangka manggil dia lagi. Kunci diganjel pakai kertas gede. Dipanggil sampai tiga kali. Minta tolong dibetulin. Yang ketiga baru deh. Nggak lama dia merencanakan itu. Satu minggu perencanaan tapi spontan," kata dia.
"Sudah beberapa kali ketemu jadi Yoshimi sudah anggap tersangka untuk betulin kunci. Hasil otopsi belum baru visum," sambung dia.
Saat menangkap, lanjut Eko, pelaku sempat ingin melarikan diri. Hingga akhirnya pelaku berhasil dilumpuhkan oleh aparat Kepolisian dengan timah panas.
"Pelaku sudah merasa sudah diintai oleh polisi. Pas lompat dari bus, pelaku terkena tembakan dari polisi," tandas dia. (*)
