Notification

×

RUU Berencana Batasi KPK Hanya 12 Tahun

07 October 2015 | 6:51 AM WIB Last Updated 2015-10-06T23:51:45Z

LAMPUNG ONLINE - Badan Legislatif Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia membahas usulan Rancangan Undang-undang Komisi Pemberantasan Korupsi (RUU KPK) untuk masuk ke dalam program legislasi nasional (prolegnas) prioritas tahun 2015. 

Dalam rancangan itu rencananya KPK akan dibatasi selama 12 tahun. Pembatasan itu tertulis pada Pasal 5 RUU KPK yang menyatakan bahwa KPK dibentuk untuk masa waktu 12 tahun sejak undang-undang itu diundangkan. Pembahasan mengenai pembatasan itu berlangsung pada sidang DPR, Selasa (6/10/2015).

Belum menemukan kata sepakat, pembahasan RUU tersebut akhirnya ditunda hingga hari Senin pekan depan karena dinilai membutuhkan pandangan dan pendalaman dari fraksi di DPR.

“Tidak bisa diputuskan hari ini dan kita butuh pendalaman,” kata politisi dari Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI Perjuangan) Rieke Diah Pitaloka.

Menurut Rieke pendalaman itu perlu karena pentingnya hal yang akan dibahas.  

“Saya pikir kalau undang-undang itu untuk memperkuat kinerja KPK," katanya. 

Dikatakan Rieke, yang harus diperhatikan saat ini adalah apakah pemerintah punya komitmen yang sama atau membiarkan kegaduhan politik terjadi. "Pembahasannya harus terbuka.”

Politisi PDI Perjuangan lainnya, Hendrawan Supratikno, mengatakan bahwa diberikannya Rancangan Undang-undang KPK kepada DPR agar dapat selesai dibahas dengan cepat. 

"Mungkin agar undang-undang ini bisa cepat selesai. Masa sidang sampai Oktober," katanya. 

Hal senada juga dikatakan oleh politisi PDI-P, Henry Yosodiningrat. 

“Apapun yang dilakukan untuk membuat KPK lebih baik, saya mendukung,” kata dia.

Sementara itu anggota Fraksi PAN, Toto Daryanto, mengatakan bahwa partainya tidak ikut mengusulkan perubahan UU KPK. 

"PAN menganggap itu belum mendesak," katanya usai rapat badan legislasi di Gedung DPR, Jakarta. 

Sejauh ini, beberapa fraksi telah mendorong mendukung dilakukan perubahan UU KPK seperti partai Golkar, PKB, PPP, Nasdem, dan Hanura.

Menurut Toto bahwa banyak hal yang perlu dipertimbangkan untuk melakukan perubahan UU KPK. "PAN melihat masyarakat bersifat apriori yang tidak mau KPK diubah-ubah," katanya.

Oleh sebab itu, katanya, sikap PAN tidak memberikan dukungan dan mengambil sikap terhadap perubahan undang-undang tersebut. "Tidak ada anggota kita yabg menjadi pengusul," katanya.

Pembahasan rencana undang-undang KPK, dijadwalkan Badan Legislasi DPR, akan dimulai kembali Senin pekan depan, 12 Oktober 2015, seperti dilansir Tempo.

Pimpinan KPK Tidak Tahu

Pelaksana tugas Pimpinan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Indrianto Seno Adji, mengatakan tidak tahu adanya pasal dalam Rancangan Undang-undang KPK yang menyatakan akan membatasi KPK selama 12 tahun. Ia justru mempertanyakan kenapa ada perubahan UU KPK. 

"Presiden kan sudah menolak untuk melakukan perubahan maupun revisi Undang-Undang KPK," ujar Indrianto.

Menurutnya, saat ini belum waktunya melakukan perubahan UU KPK. "Tidak kondusif," katanya. Alasannya, "Selain berdampak terhadap eksistensi KPK dan iklim politik, juga belum jelas arah dan tujuan revisi ini," ucapnya. 

Indrianto mengatakan bahwa semestinya semua pihak sadar bahwa makna KPK sebagai lembaga ad hoc tidak bisa didasarkan atas batasan waktu tertentu. "Tapi kondisilah yang menentukan hal tersebut (masa waktu lembaga KPK)," ujarnya.

Menurut dia, Undang-undang KPK sekarang sudah baik. "Memang masalah manajemen struktural saja yang perlu dievaluasi, misalnya terkait Penasihat KPK yang berada dalam struktur KPK," kata dia. Menurutnya, sebaiknya ada dewan pengawas di luar struktural agar pihak tersebut lebih independen. (*)