![]() |
| Faisal Basri |
LAMPUNG ONLINE -
Pernyataan kontroversi diungkapkan Ekonom Institute for Development of
Economics and Finance (Indef) Faisal Basri. Pria keturunan Batak
bermarga Batubara ini menilai pembangunan jalan Tol Trans-Sumatera
seharusnya dibatalkan.
Menurut
Faisal yang gagal menjadi gubernur DKI Jakarta ini, hal tersebut karena
jalan tol di Sumatera tidak sesuai dengan visi-misi yang diusung
pemerintahan Joko Widodo-Jusuf Kalla (Jokowi-JK), yang fokus
mengembangkan sektor kemaritiman.
"Kita hampir tersesat. Untungnya Jembatan Selat Sunda (JSS) dibatalkan. Tapi, seharusnya jalan Tol Trans-Sumatera juga dibatalkan," ujarnya di Jakarta, Senin (14/12/2015).
Faisal mengatakan, proyek jalan tol yang saat ini dikerjakan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Hutama Karya tersebut adalah pembangunan infrastruktur yang sepaket dengan jembatan Selat Sunda.
"Kita hampir tersesat. Untungnya Jembatan Selat Sunda (JSS) dibatalkan. Tapi, seharusnya jalan Tol Trans-Sumatera juga dibatalkan," ujarnya di Jakarta, Senin (14/12/2015).
Faisal mengatakan, proyek jalan tol yang saat ini dikerjakan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Hutama Karya tersebut adalah pembangunan infrastruktur yang sepaket dengan jembatan Selat Sunda.
Tujuannya untuk meningkatkan arus lalu lintas kendaraan (traffic) dari jembatan penghubung antar pulau itu ke wilayah Sumatera.
Menurut Faisal, pemerintah seharusnya membangun jalan barat-timur, bukan jalan tol Trans Sumatera saat ini, utara-selatan yang membujur sepanjang lebih dari 2.000 kilometer.
Menurut Faisal, pemerintah seharusnya membangun jalan barat-timur, bukan jalan tol Trans Sumatera saat ini, utara-selatan yang membujur sepanjang lebih dari 2.000 kilometer.
Jalan
itu, lanjut Faisal, dihubungkan dengan pelabuhan di Sumatera, sehingga
kegiatan ekonomi termasuk transportasi laut bisa berkembang secara
masif.
"Nantinya hasil produk dari daerah di Sumatera, seperti jeruk dari Medan itu bisa dikirim ke Jakarta misalnya, lewat kapal laut," imbuhnya, seperti dilansir Sindonews.
Diketahui, saat ini proyek raksasa tol Sumatera tersebut sudah memulai proses konstruksi, dengan tahap awal dari Pelabuhan Bakauheni (Lampung Selatan) ke Terbanggi Besar (Lampung Tengah) sepanjang 140 km pada April 2015.
"Nantinya hasil produk dari daerah di Sumatera, seperti jeruk dari Medan itu bisa dikirim ke Jakarta misalnya, lewat kapal laut," imbuhnya, seperti dilansir Sindonews.
Diketahui, saat ini proyek raksasa tol Sumatera tersebut sudah memulai proses konstruksi, dengan tahap awal dari Pelabuhan Bakauheni (Lampung Selatan) ke Terbanggi Besar (Lampung Tengah) sepanjang 140 km pada April 2015.
Jalan
tol tersebut terdiri dari empat koridor utama (Bandar
Lampung-Palembang, Palembang-Pekan Baru, Pekan Baru-Medan, Medan-Banda
Aceh), dan tiga koridor prioritas pembangunan (Palembang-Bengkulu, Pekan
Baru-Padang, Medan-Sibolga). (*/fik)
