BANDAR LAMPUNG - Puluhan warga Jalan Ki Maja, Way Halim, memprotes penutupan jalan, terkait pembangunan jembatan layang (flyover) ruas jalan Ki Maja-Ratu Dibalau. Itu karena penutupan jalan tersebut dinilai tidak ada sosialisasi. Oleh karena itu, sekira 24 perwakilan warga mengadukannya ke wakil rakyat di gedung DPRD Bandar Lampung, Jumat (24/4).
Seperti diungkapkan pemilik bengkel 'Buyung Otomotif', Endriawati. Dia mempertanyakan kebijakan Pemkot Bandar Lampung yang menutup langsung jalur jalan Ki Maja. Warga merasa tidak ada sosialisasi penutupan jalan dari pengembang maupun pihak pemkot.
“Tidak ada sosialisasi, tahu-tahu pemkot langsung tutup saja,” tukasnya, saat pertemuan dengan Komisi III DPRD Bandar Lampung. Dalam rapat yang dipimpin Ketua Komisi III Heriyadi Fayakun, warga khawatir akibat penutupan tersebut, usaha mereka akan terkena dampaknya.
"Usaha kami bisa mati, penutupan jalan ini terlalu cepat. Apalagi kalau sampai ditutup total selama pembangunan," tutur Endriawati.
Senada diungkapkan pemilik Toko Way Halim Elektronik, Fauzi Rahman. Menurut dia, pembangunan flyover itu tidak terlalu mendesak untuk direalisasikan, karena belum ada kemacetan arus lalu lintas yang berarti.
"Apalagi tahun lalu sudah ada pelebaran jalan selebar delapan meter," jelasnya.
Menanggapi itu, anggota Komisi III Yuhadi mengaku siap menjamin bahwa pembangunan flyover tidak akan mengganggu akses lalu lintas warga setempat.
"Jalan di bawah flyover akan selesai tepat waktu. Tak akan terbengkalai seperti sebelumnya. Saya sebagai wakil rakyat, siap bertanggungjawab," janjinya. Terkait penutupan yang dinilai terlalu cepat, Yuhadi mengatakan, DPRD akan mencoba berkoordinasi dengan Dinas Pekerjaan Umum (PU) setempat.
"Nanti saya imbau ke PU," janjinya.
Terpisah, Kadis PU Bandar Lampung, Ibrahim, mengatakan, pembangunan flyover ditujukan untuk mendukung Kota Bandar Lampung secara keseluruhan, bukan hanya untuk warga Ki Maja-Ratu Dibalau.
"Tujuan flyover diarahkan untuk men-support jalan bypass Soekarno-Hatta. Alur kendaraan besar seperti truk dan bus yang menuju ke Panjang dan Terminal Rajabasa tak perlu terpotong kendaraan yang menyebrang," jelasnya, seperti dilansir Harianlampung.
Ibrahim mengungkapkan, Jalan Ratu Dibalau diplot dalam Rencana Tata Ruang dan Wilayah (RTRW) sebagai daerah permukiman. Ke depan, daerah Ratu Dibalau, Kecamatan Tanjung Senang kian ramai. Orang memilih tinggal di pinggiran kota, karena pusat kota Bandar Lampung sudah padat.
"Arus kendaraan di sini akan meningkat. Flyover ini untuk antisipasi agar jalur kendaraan tetap nyaman sekaligus mengimbangi pertumbuhan kendaraan,” terang Ibrahim. (*)
