![]() |
| Andi Arief |
LAMPUNG - Hasil penjaringan calon kepala daerah (Calonkada) Partai Demokrat (PD) di Lampung, sudah dilaporkan ke DPP akhir Juni lalu. Saat ini, kader partai besutan SBY itu sedang fokus menunggu calon yang akan ditetapkan DPP, untuk diusung sebagai calon kepala daerah yang maju pada Pilkada serentak 9 Desember 2015 mendatang.
Saat Rapimnas Partai Demokrat baru-baru ini, politisi asal Lampung Andi Arief, yang kini menjabat Ketua DPP Partai Demokrat Bidang Pemberantasan Korupsi dan Mafia Hukum, merangkum keinginan para kader soal calon kepala daerah yang akan diputuskan.
"Hampir sebagian besar kader menganggap, ada persoalan dengan sikap ketua dan pengurus DPD PD. Dalam proses penjaringan di DPC, semua kader menyatakan hanya formalitas, karena akhirnya hasil penjaringan tidak menjadi acuan DPD. Apa yang dibawa ke DPP adalah apa yang diinginkan DPD, bukan hasil dari penjaringan DPC. Walaupun akhirnya nanti kesemuanya disandingkan dengan hasil survey awal," ujar Andi Arief yang saat ini sedang mudik di Lampung, dalam keterangan tertulisnya kepada Lampung Online, Rabu (15/7/2015).
Menurut Andi, partai memang menargetkan kemenangan. Itu hal yang logis. Tapi kader-kader partai yang merasa memiliki partai tentu dengan kebijakan 'menang' itu, menurunkan militansi dan kecintaan untuk berbuat maksimal pada partai.
Karena sebagai partai muda, lanjut dia, tentunya kader Demokrat yang memiliki keinginan 'harus menang' sangat terbatas. Apalagi melawan kenyataan lain, bahwa uang sudah mulai menentukan dan jika ada incumbent di suatu wilayah, tentu sang petahana sudah di atas angin.
"Di Lampung, saya melihat kader yang susah payah mengalami kekecewaan dalam proses pilkada ini, juga di sebagian daerah lain. Di Lampung, kader yang tidak ikut penjaringan, malah jadi calon wakil walikota," tukas Andi .
Lucunya lagi, sambung dia, ada kader yang 'menjajakan' dirinya hampir di semua penjaringan di partai lain, karena merasa sudah tak mungkin mendapat kesempatan.
"Yang mengejutkan Saya, ada kader Demokrat yang karena hanya menjadi calon wakil walikota, malah ikut sekolah partai PDIP," ujar Mantan Staf Khusus Presiden SBY ini.
Menyikapi ini, Andi Arief menyarankan agar kebijakan SBY, yakni harus kader yang mencalonkan diri, diberlakukan di daerah yang prioritas menang dan yang sulit menang sekalipun.
"Karena positifnya adalah menguji soliditas dan rasa memiliki partai sebagai langkah menuju 2019. Kalau kader dipercaya dan diberi kesempatan, walaupun hasilnya belum tentu baik, itu tidak soal. Partai Demokrat ini masih muda dan perlu proses. Saya yakin, partai akan terjaga soliditas dan kekar posturnya," ujar Andi. (ruslan)
