Notification

×

Jafri Sastra Mengaku Tolak Pinangan Lampung FC

30 July 2015 | 9:34 PM WIB Last Updated 2015-07-30T14:34:32Z
Jafri Sastra

LAMPUNG ONLINE - Mantan pelatih Semen Padang FC Jafri Sastra mengaku menolak pinangan dari klub sepakbola asal Lampung, Lampung FC. Jafri diminta untuk menangani tim berjuluk Pasukan 'Gajah Beringas' yang akan tampil di Piala Kemerdekaan yang digagas Tim Transisi bentukan Menpora. Indra menolak, karena waktu persiapan tim yang mepet. 

"Saya cuma punya waktu satu minggu, karena turnamen akan digelar pada 2 Agustus 2015. Persiapan seperti itu tidak akan menghasilkan tim yang maksimal. Daripada hasilnya tidak memuaskan, lebih baik saya tolak saja," kata Jafri, seperti dilansir dari Tribunnews pada Kamis (30/7/2015).

Jafri menerangkan, sebenarnya dirinya tertarik untuk kembali melatih, namun waktu persiapan yang pendek, dia tidak berani mengambil resiko.

"Lampung FC pasti ingin mendapatkan hasil yang maksimal, karena selama ini mereka vakum. Jika gagal mewujudkan harapan itu, saya akan dianggap gagal. Lebih baik saya tolak sejak awal," terang Jafri.

Jafri berharap ada tim Liga super Indonesia (LSI) yang mau meminangnya jelang kompetisi musim depan atau untuk turnamen Piala Indonesia Satu (PIS).

"Saya menunggu tawaran dari tim LSI saja yang bersiap-siap menjalani turnamen PIS. Kalau tidak dapat, ya nunggu LSI musim depan saja," ucap Jafri.

Jafri berujar, dirinya memang membutuhkan pekerjaan di sepakbola, karena sudah lima bulan menganggur pasca 'dipecat' dari Semen Padang.

"Saya butuh uang untuk menghidupi keluarga. Oleh karena itu, saya sangat berharap kompetisi musim depan bisa kembali digelar. Apapun tim yang meminang, saya tidak mempermasalahkan," ujar Jafri.

Jafri rindu tampil di lapangan hijau dan menghirup udara pertandingan. 

"Skill saya hanya sebagai pelatih. Hanya dari sepakbola sajalah, saya bisa makan. Jika konflik ini tak kunjung selesai, bagaimana saya bisa hidup. Kondisi seperti ini juga dialami seluruh pelaku sepakbola," tutur Jafri.

Oleh karena itu, Jafri meminta Menpora dan PSSI harus duduk bersama mencari solusi untuk menyelamatkan sepakbola nasional. Belum terlambat untuk menunjukkan itikad baik melakukan perdamaian.
Jafri juga menyesalkan keputusan yang membekukan PSSI, sehingga berujung kepada jatuhnya sanksi FIFA, dan tidak ada kejelasan kompetisi.

“Seharusnya PSSI tidak langsung dimatikan seperti ini, tapi dibenahi bersama dan bertahap mungkin lebih baik. Saya setuju jika pemerintah mau melakukan pembenahan, karena sepakbola kita masih perlu diperbaiki,” jelas Jafri.

Menurut Jafri, saat ini yang dibutuhkan untuk menyelesaikan konflik sepakbola nasional adalah itikad baik dari kedua pihak yang berseteru.

“Sampai kapan ini terjadi. Sementara para pelaku sepakbola menunggu-nunggu kapan keadaan kembali normal. Sebaiknya mereka memikirkan nasib kami yang sangat bergantung dari sepak bola. Akibat kompetisi vakum, saya menganggur. Padahal kebutuhan keluarga dan biaya sekolah anak sangat besar," papar Jafri.

Jafri sukses mengantarkan Semen Padang ke babak delapan besar LSI 2014, namun posisinya digantikan Nil Maizar ketika Kabau Sirah menyongsong musim 2015. Jafri sempat mencapai kesepakatan dengan salah satu klub Divisi Utama Liga Indonesia, tapi kompetisi dihentikan. (*)