Notification

×

Jaringan '98 Dukung BIN Perangi Korupsi dan Neoliberalisme

05 July 2015 | 6:53 PM WIB Last Updated 2015-07-05T11:53:43Z
Ricky Tamba

LAMPUNG ONLINE - "Selamat untuk Bang Yos, Kepala Badan Intelijen Negara (BIN) terpilih. Tugas berat menanti, perang terhadap teror korupsi dan neoliberalisme," ujar Juru Bicara Jaringan '98, Ricky Tamba, dalam keterangan tertulisnya kepada Lampung Online, Minggu (5/7/2015).

Dia menilai, korupsi jadi ancaman pokok stabilitas Indonesia. Maraknya korupsi elite dan politisi, menstimulasi rakyat mengidap pragmatisme akut di berbagai momentum demokrasi dan kehidupan sosial budaya. 

"BIN harus diberdayakan untuk penyadaran rakyat akan bahaya korupsi, juga menyerap informasi berbagai indikasi pidana korupsi hingga desa. Dengan konsep satu agen BIN di tiap kabupaten, bisa eliminir korupsi sejak dini. APBN, APBD dan anggaran desa tidak terus jadi bancakan pengkhianat bangsa," saran Ricky.

Selain korupsi, lanjut dia, BIN adalah garda terdepan bersama Tentara Nasional Indonesia (TNI) hadang gempuran neoliberalisme yang menerpurukkan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Neoliberalisme adalah penjajahan gaya baru, sama seperti neokolonialisme yang dibenci Bung Karno, yang masuk melemahkan ketahanan bangsa dan wawasan bernegara. 

"Caranya macam-macam, bisa melalui konsesi suap ke pejabat daerah dalam izin pertambangan yang eksploitasi sumber daya alam merugikan masyarakat lokal dan keuntungan dilarikan ke luar negeri. Juga bisa dalam bentuk pasokan budaya asing yang negatif seperti gaya hidup seks bebas dan narkoba," terang dia.

Ricky berharap BIN semakin maju, modern dan efektif dikomando Sutiyoso yang piawai di kemiliteran dan pemerintahan, sehingga membantu Presiden Joko Widodo mewujudkan janji Nawacita dan Trisakti.

"Kami dukung Kepala BIN perangi teror korupsi dan neoliberalisme. Area pertempuran sudah bergeser, dari perang konvensional domestik jadi perang informasi dan teknologi global. BIN harus mampu beradaptasi dengan perkembangan zaman guna menjaga NKRI tercinta," pungkasnya. (fikri)