LAMPUNG ONLINE - PT Bank Lampung (Bank Lampung) optimistis dapat mencetak laba sesuai rencana bisnis bank (RBB) 2015 sebesar Rp 167 miliar pada akhir 2015. Kendati, perseroan tengah berencana memangkas target pertumbuhan kredit yang awalnya sebesar 18 persen menjadi 11 persen.
Selain itu, pertumbuhan dana pihak ketiga (DPK) juga akan Bank Lampung revisi menjadi 27,11 persen dari target awal yang sebesar 30 persen.
Direktur Utama Mangkoe Sasmito mengatakan, karena perlambatan ekonomi perseroan memutuskan untuk memproses revisi kredit maupun DPK. Adapun berdasarkan laporan keuangan Bank Lampung per April 2015, tercatat penyaluran kredit mencapai Rp 3,63 triliun, total DPK sebesar Rp 5,93 triliun, dan laba tahun berjalan Rp 70,52 miliar.
Dengan asumsi RBB 2015, perseroan membutuhkan tambahan kredit sebesar Rp 880 miliar sampai akhir tahun. Sedangkan dengan target kredit versi revisi, Bank Lampung hanya memerlukan tambahan Rp 380 miliar hingga Desember 2015.
Dengan asumsi RBB 2015, perseroan membutuhkan tambahan kredit sebesar Rp 880 miliar sampai akhir tahun. Sedangkan dengan target kredit versi revisi, Bank Lampung hanya memerlukan tambahan Rp 380 miliar hingga Desember 2015.
“Walaupun kredit kami turunkan, kami akan tetap menjaga agar laba tidak terkoreksi. Pada akhir Mei 2015, perolehan laba kami sebesar 90 miliar. Jadi perseroan memproyeksikan, untuk laba akan tetap sesuai dengan RBB 2015, yaitu sebesar Rp 167 miliar,” ujar dia kepada Investor Daily di Jakarta yang dilansir Beritasatu, Jumat (3/7/2015).
Kendati, perseroan tidak akan merevisi target laba. Namun, perolehan perolehan laba tahun lalu menunjukkan Bank Lampung memang konservatif memasang target laba dalam RBB 2015. Laporan keuangan tahunan perseroan pada 2014 menunjukkan, laba bersih tumbuh sebesar 114,26 persen secara year on year (yoy) dari posisi Rp 72,70 miliar menjadi Rp 115,77 miliar.
Menurut Mangkoe, perseroan lebih mengandalkan perolehan pendapatan bunga bersih untuk laba dibanding pendapatan non bunga (pendapatan berbasis biaya/fee based income).
Menurut Mangkoe, perseroan lebih mengandalkan perolehan pendapatan bunga bersih untuk laba dibanding pendapatan non bunga (pendapatan berbasis biaya/fee based income).
“Sebab, fee based income kami masih kecil, sekitar 1 persen terhadap laba. Hal itu, karena perseroan masih memiliki keterbatasan dalam hal teknologi informasi (TI) dan produk. Tetapi, untuk net interest margin (NIM) akan kami jaga di kisaran 6,5-7 persen hingga akhir tahun,” jelas dia.
Saat ini, porsi penyaluran kredit Bank Lampung terdiri dari 95 persen konsumtif dan 5 persen untuk konsumtif. Laporan keuangan perseroan pada akhir Maret lalu, menunjukkan porsi kredit untuk segmen usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) baru mencapai 3,73 persen terhadap total kredit yang sebesar Rp 3,60 triliun. Sedangkan porsi debitor segmen UMKM mencapai 18,03 persen terhadap seluruh debitor Bank Lampung.
“Untuk kredit konsumtif, yang menjadi andalan kami adalah kredit bagi pegawai negeri sipil (PNS),” papar Mangkoe.
Berdasarkan data suku bunga dasar kredit (prime lending rate) Bank Lampung periode Mei 2015, tercatat suku bunga untuk kredit konsumsi non KPR perseroan sebesar 9,39 persen. Namun, SBDK non KPR tersebut tidak termasuk untuk penyaluran pinjaman melalui kartu kredit dan kredit tanpa agunan (KTA). (*)
Berdasarkan data suku bunga dasar kredit (prime lending rate) Bank Lampung periode Mei 2015, tercatat suku bunga untuk kredit konsumsi non KPR perseroan sebesar 9,39 persen. Namun, SBDK non KPR tersebut tidak termasuk untuk penyaluran pinjaman melalui kartu kredit dan kredit tanpa agunan (KTA). (*)
