Notification

×

Prajurit TNI dan Polisi Dibunuh, Dua Jenderal Turun Gunung

14 July 2015 | 7:25 AM WIB Last Updated 2015-07-14T00:25:32Z
  
LAMPUNG ONLINE - Kasus penganiayaan yang menewaskan Prajurit Satu Aspin M dan melukai Prajurit Satu Faturahman menjadi atensi untuk dituntaskan.

Kepala Kepolisian Daerah Sulawesi Selatan dan Sulawesi Barat, Inspektur Jenderal Anton Setiadji dan Panglima Kodam VII/Wirabuana Mayor Jenderal Bachtiar turun tangan mengatasi permasalahan itu agar tak menimbulkan kekacauan yang lebih besar. Kedua jenderal bintang dua itu bertemu di Markas Kostrad Kariango, Maros, Minggu (12/7/2015).

Pertemuan Kapolda dan Pangdam itu merupakan upaya mencairkan situasi agar tetap kondusif. Juru bicara Polda Sulawesi Selatan dan Barat, Komisaris Besar Frans Barung Mangera, mengatakan pimpinan kedua institusi itu sepakat menciptakan situasi kondusif. 

"Kapolda dan Pangdam sudah sepakat mencari pelakunya dan kedua sepakat menjaga situasi kondusif," katanya, seperti dilansir Tempo.

Keseriusan Korps Bhayangkara mengungkap kasus itu juga terlihat dari turun tangannya Wakil Kepala Polda Sulawesi Selatan dan Barat, Brigadir Jenderal Ike Edwin. Orang nomor dua di Polda Sulawesi Selatan dan Barat itu memimpin langsung rapat penyelidikan kasus penganiayaan yang menewaskan anggota TNI. 

"Kami serius mengungkap kasus tersebut," ucapnya.

Dua personel,  Aspin dan Faturahman, diserang sekelompok orang tidak dikenal saat tengah duduk-duduk di Lapangan Syekh Yusuf, tepatnya di depan Kantor Bupati Gowa, Minggu, 12 Juli 2015, dini hari. Aspin meninggal dengan luka tikam pada bagian dada kiri di ruang operasi RS Wahidin Sudirohusodo. Adapun, Faturahman dengan luka tikam pada perut masih dirawat intensif di Rumah Sakit Pelamonia.

Aspin dan Faturahman adalah anggota Kostrad Kariango. Mereka tidak sengaja bertemu di Lapangan Syekh Yusuf dan saling mengobrol. Tak berselang lama, segerombolan pelaku yang mengendarai sepeda motor langsung melakukan penyerangan secara brutal. Keduanya sempat dilarikan ke RS Syekh Yusuf sebelum akhirnya dirujuk ke RS Wahidin Sudirohusodo dan RS Pelamonia.

Pasca-insiden itu beredar rumor yang menyebutkan bahwa penyerangan itu diduga berkaitan penyerangan pos polisi di bundaran Samata, Kamis, 2 Juli 2015. Dalam peristiwa berdarah itu, seorang anggota Polres Gowa, Brigadir Irvanudin, tewas dengan luka parah bekas bacok di sekujur tubuhnya. Dua rekannya, Brigadir Dua Usman dan Brigadir Mus Muliadi, ikut terluka tapi berhasil selamat.

Barung membantah adanya hubungan antara penyerangan pos polisi dengan penyerangan tentara di Lapangan Syekh Yusuf. Ia menegaskan anggota Kepolisian tidak mungkin melakukan penyerangan itu untuk melakukan balas dendam. Toh, kasus pertama itu masih dalam proses penyelidikan. Kepolisian juga tak pernah ingin melakukan balas dendam terhadap pelakunya. (*)