Notification

×

KPU Bandar Lampung Targetkan Partisipasi Pemilih di Pilwakot 70 Persen

12 August 2015 | 3:30 PM WIB Last Updated 2015-08-12T13:08:53Z
Fauzi Heri

BANDAR LAMPUNG - Target angka partisipasi pemilih dalam pemilihan wali kota (Pilwakot) Bandar Lampung, yang akan digelar serentak dengan tujuh pilkada lainnya di Lampung, mencapai 70 persen. Jumlah itu lebih besar dari angka partisipasi pemilih pada saat berlangsungnya pilkada lima tahun sebelumnya atau tahun 2010 yang hanya 58 persen.

"Angka partisipasi pemilih pada pilkada sebelumnya cuma 58 persen. Sekarang kami targetkan 70 persen," kata Ketua KPU Kota Bandar Lampung Fauzi Heri di Bandar Lampung, seperti dilansir Republika, Rabu (12/8/2015). 

Untuk menaikkan target dari sebelumnya sebesar 12 persen, menurut dia, KPU terus melakukan perbaikan-perbaikan pendataan pemilih. Selain itu, KPU juga terus melakukan sosialisasi secara masif ke berbagai kalangan, terutama kepada pemilih pemula.

Fauzi optimistis target angka partisipasi pemilih pada pilkada serentak di Lampung ini tercapai, setelah melakukan sosialisasi secara masif dan kreatif di berbagai wilayah Kota Bandar Lampung. KPU membidik target untuk meningkatkan partisipasi pemilih, yakni pemilih pemula, kaum perempuan, kelompok difabel, dan kaum marginal.

Menurutnya, dengan sosialisasi masif, diharapkan warga dengan berbagai kelompok usia dapat sadar untuk terdata dan memilih pada Pilkada Kota Bandar Lampung. Ia mengatakan pihaknya masih terus melakukan pemutakhiran data pemilih.

KPU masih terus melakukan proses data daftar pemilih tetap (DPT), yang terus menjadi krusial dalam setiap pilkada di mana pun berada. Untuk itu, KPU selalu melakukan penyisiran kembali mulai dari tingkat RT hingga level yang tinggi.

Sementara, pengamat politik dan hukum dari Universitas Lampung, Yusdianto, menyatakan warga yang tidak berpatisipasi dalam pemilu atau pilkada masih tetap ada. Hal ini dipengaruhi dari kurangnya sosialisasi dari KPU, tidak puasnya penyampaian visi dan misi kandidat, dan figur calon pilkada itu sendiri.

"Bila sosialisasi pilkada baik, angka partisipasi pemilih meningkat dan golongan putih (golput) menurun atau dapat ditekan. Warga yang memilih akan menilai visi dan misi calon yang akan dilakukan ketika menjabat sebagai kepala daerah dan kemampuan memimpin kota ini," jelasnya. (*)