![]() |
| Seniman musik Lampung Syafril Yamin sedang membuat alat musik Cetik dari bilah bambu. (Ist) |
LAMPUNG - Tekad untuk menjadikan musik tradisional Lampung Gamolan Pekhing dan 'Cetik' jadi mata kuliah di perguruan tinggi seni di Indonesia jadi kenyataan. Musik tradisional Lampung dipastikan bakal masuk dalam kurikulum dan menjadi salah satu mata kuliah Musik Daerah Nusantara.
Perguruan tinggi yang akan menjadikannya mata kuliah yakni Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta dan Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta. Sedangkan di ISI Denpasar, mata kuliah musik tradisional Lampung baru dijadikan mata kuliah ekstra.
Hal ini diungkapkan I Wayan Sumerta Dana Arta alias Wayan Moccoh, penulis buku Gamolan Pekhing, Musik Bambu dari Skala Brak, di Bandar Lampung, dalam keterangan tertulis yang dikirim ke Lampung Online, Senin (10/8/2015).
Moccoh yang menemukan laras Gamolan Pekhing dan Cetik pada tahun 2003, yang menamakan pelog 6 nada, yakni: 1, 2, 3, 5, 6, 7, (1) oktaf, terus berusaha menyosialisasikan musik ini, baik di daerah maupun di luar Lampung.
"Sasaran strategisny adalah kalangan akademis dari anak sekolah sampai perguruan tinggi, juga guru dan dosen," jelasnya.
Moccoh bersama Syafril 'Rajo Cetik' Yamin, A.Barden dan Riki dari kelompok Pegiat Cetik Lampung juga terus berupaya memasyarakatkan musik tradisional gamolan pekhing alias cetik lewat TVRI, memberikan workshop untuk pelajar, para guru kesenian di Lampung dan FKIP Unila.
Sedangkan untuk luar Lampung, Moccoh terus memperkenalkan Gamolan Pekhing dengan menggelar workshop ke beberapa peguruan tinggi seni di Indonesia, antara lain STSI Bandung, ISI Yogyakarta, ISI Surakarta dan ISI Denpasar. Selain itu, pernah juga mementaskan musik Gamolan Pekhing ke Festival Musik Anak-anak di Gedung Kesenian Jakarta.
"Yang kini jadi 'pekerjaan rumah' adalah mendorong Pemerintah Provinsi Lampung untuk segera merealisasikan bantuan alat musik tradisional Lampung Talo Balak dan Gamolan Pekhing, untuk praktek mahasiswa," harapnya.
“Saya merasa bersyukur dan bangga, akhirnya musik tradisional Lampung bisa bersanding dengan musik daerah lainnya jadi mata kuliah di perguruan tinggi seni bergengsi. Langkah strategis ini sebagai upaya promosi musik Lampung ke seantero nusantara bahkan dunia, sekaligus sebagai salah satu media pelestarian,” imbuh Moccoh.
Sementara, Pembantu Rektor I ISI Yogyakarta Prof.Dr. I Wayan Dana, SST, M.Hum mengatakan, perangkat alat musik tradisional ini tentu sangat diperlukan untuk kebutuhan praktek mahasiswa.
Hal senada juga diiungkapkan Dekan Seni Pertunjukan ISI Surakarta Sigit Astono, S.Kar, M.Hum. Menurut dia tidak mungkin mahasiswa mempelajari musik hanya teorinya saja tanpa praktek.
“Mudah-mudahan Pemerintah Provinsi Lampung segera merealisasikan bantuan perangkat musik tradisional Lampung Talo Balak dan Gamolan Pekhing ini,” harap Sigit. (ruslan)
