Notification

×

BPS: Jumlah Penduduk Miskin di Lampung Meningkat

15 September 2015 | 11:30 PM WIB Last Updated 2015-09-15T18:22:18Z

LAMPUNG -  Pada Maret 2015 ini, angka kemiskinan Provinsi Lampung kembali mengalami kenaikan. Berdasarkan hasil survei terbaru dari Badan Pusat Statistik (BPS) Lampung, diketahui angka kemiskinan Lampung sebesar 14,35 persen atau sebanyak 1.163,49 ribu jiwa. 

Kepala BPS Lampung Adhi Wiriana menjelaskan, berdasarkan data September 2014 angka kemiskinan Provinsi Lampung masih 14,21 persen atau 1.143,93 ribu jiwa. Dengan kata lain selama periode September 2014–Maret 2015 telah terjadi penambahan jumlah penduduk miskin sekitar 19,56 ribu jiwa atau 0,14 persen. 

"Angka kemiskinan Lampung pada Maret 2015 ini masih lebih tinggi dibandingkan dengan angka nasional yang sebesar 11,22 persen," kata Adhi di kantor BPS Lampung, Jalan Basuki Rahmat, No.54, Bandar Lampung, Selasa (15/9/2015). 

Dia mengatakan tren penurunan angka kemiskinan yang dialami Provinsi Lampung sejak 2010, tidak terjadi pada Maret 2015. Kenaikan ini juga terjadi pada tingkat nasional bahkan kenaikan angka kemiskinan tingkat nasional lebih tinggi dibandingkan dengan kenaikan angka kemiskinan Provinsi Lampung. Dengan demikian, gap antara angka kemiskinan nasional dengan Lampung menjadi semakin sempit. 

Dia menjelaskan berdasarkan daerah tempat tinggal, penduduk miskin terkonsentrasi di perdesaan dengan tingkat kemiskinan sebesar 15,56 persen. Cukup jauh terpaut dengan kemiskinan di perkotaan yang 10,94 persen. Dari sisi jumlah penduduk miskin juga terdapat beda yang signifikan yakni 233,27 ribu jiwa di perkotaan dengan 930,22 ribu jiwa di daerah perdesaan. 

Menurutnya, kenaikan tingkat kemiskinan selama periode September 2014-Maret 2015, lebih signifikan terjadi di daerah urban (perkotaan) yang bertambah 0,26 persen (9,1 ribu jiwa), sedangkan di daerah rural (perdesaan) hanya mengalami kenaikan 0,11 persen (10,5 ribu jiwa). Berarti pada periode ini penurunan tingkat kesejahteraan penduduk miskin lebih cepat terjadi di perkotaan dibanding di perdesaan. 

Selain itu, peranan komoditi makanan terhadap garis kemiskinan jauh lebih besar dibandingkan peranan komoditi bukan makanan (perumahan, sandang, pendidikan, dan kesehatan). Pada Maret 2015, sumbangan garis kemiskinan makanan terhadap garis kemiskinan sebesar 75,11 persen dan sumbangan garis kemiskinan nonmakanan sebesar 24,89 persen. 

Komoditi makanan yang berpengaruh besar terhadap nilai garis kemiskinan di perkotaan adalah beras, rokok kretek filter, telur ayam ras, tempe, dan mie instan. Sedangkan, komodoti yang berpengaruh besar terhadap nilai garis kemiskinan di perdesaan adalah beras, rokok kretek filter, gula pasir, telur ayam ras, dan tempe, seperti dilansir Lampost

Komoditi bukan makanan yang berpengaruh besar terhadap nilai garis kemiskinan baik di perkotaan maupun perdesaan sama yaitu perumahan, bensin, listrik, pendidikan, dan perlengkapan mandi. (*)