![]() |
| Ini gajah Yongki yang dibunuh dan diambil gadingnya. (arsip forum mahout indonesia/nazarudin) |
LAMPUNG - Pasca pembunuhan gajah Yongki, ruang gerak pemburu gading gajah terus dipantau. Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Provinsi Lampung juga telah menutup akses perdagangan di Lampung agar gading tersebut tidak keluar dari wilayah tersebut.
Hal itu disampaikan Kepala Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Provinsi Lampung Subakir ketika ditemui di Bandar Lampung, Senin (21/9/2015).
"Kami sudah menyiapkan petugas di beberapa akses keluar Lampung, termasuk di bandara dan pelabuhan. Semoga gading Yongki tidak keluar Lampung dan pelakunya bisa segera kami tangkap," ujarnya, seperti dilansir Kompas.
Subakir mengatakan, pihaknya juga telah menyebar tim intelijen untuk memantau pergerakan gading Yongki yang dibawa kabur pemburu gading. Ia menduga gading Yongki masih berada di sekitar Lampung.
Penyelidikan kematian Yongki, lanjut Subakir, memang menjadi tanggung jawab Taman Nasional Bukit Barisan Selatan. Namun, upaya perdagangan gading gajah yang dibawa keluar dari kawasan Taman Nasional Bukit Barisan Selatan menjadi tanggung jawab BKSDA Lampung.
Gajah Yongki (35) merupakan gajah jinak di Posko Pemantauan Pemerihan, Lampung Barat. Pada Jumat, Yongki ditemukan mati dalam keadaan gading dicabut. Lokasi penemuan jasad gajah Yongki hanya 200 meter dari posko pemantauan.
Semasa hidupnya, Yongki dikaryakan sebagai gajah penggiringan untuk mencegah konflik manusia dengan gajah. Yongki yang dijinakkan pada 1994 mulai berkarya sejak tahun 1997 hingga tewas di tangan pemburu pada Jumat lalu.
Secara terpisah, Ketua Forum Mahout Indonesia Nazaruddin mengatakan, perburuan gading gajah jinak bukan kali pertama terjadi.
"Sebelumnya, gajah jinak di Pusat Konservasi Gajah di Way Kambas, Bengkulu, Riau, dan Palembang pernah ditemukan mati dibantai para pemburu gading," katanya.
Pembunuhan gajah jinak jantan dewasa bergading, lanjut Nazarudin, menjadi pekerjaan rumah bagi Indonesia. Ia menduga jumlah gajah liar jantan bergading sudah mulai berkurang sehingga para pemburu gading mulai menyasar gajah jinak jantan dewasa bergading.
Nazarudin yang sempat melakukan pemonitoran di Bukit Barisan Selatan pasca kematian Yongki mengatakan, dirinya sempat bertemu dengan beberapa kawanan gajah liar. Namun, ia tidak menemukan ada gajah liar jantan yang memiliki gading. Gajah bergading yang ia temukan masih berumur anak-anak.
"Tidak semua gajah sumatera jantan punya gading. Bahkan, ada gajah sumatera jantan yang memiliki satu gading saja. Di Way Kambas ada sekitar 30 gajah jinak mulai dari anakan hingga dewasa yang memiliki gading. Mereka akan kami jaga dengan sebaik-baiknya. Jangan sampai mereka menjadi Yongki berikutnya," kata Nazarudin.
Kemarahan di media sosial
Di media sosial, ucapan duka atas kepergian Yongki secara tragis terus bergaung. Percakapan tentang gajah Yongki bisa dipantau dengan tagar #RIPYongki.
Dalam satu hari terakhir, dengan menggunakan aplikasi Topsy, terpantau sekurangnya ada 1.100 percakapan menggunakan tagar #RIPYongki. Jumlah itu di luar percakapan natural soal gajah Yongki yang tak memakai tagar khusus tersebut.
Kemarahan netizen itu beralasan mengingat Yongki adalah gajah jinak yang sudah berkontribusi dalam perdamaian manusia dengan gajah liar.
"Sungguh rakyat yg kejam sudah tau ekonomi negaranya lagi bermasalah malah tega membunuh gajah yg gak bersalah #RIPYongki," kata Nabil Faiqun Nisa dengan akun ?@NabilNisa.
Taufiqul Hadi dengan akun ?@taufiqhadi24 mengatakan, kasus kematian Yongki harus diusut dan pelakunya ditindak dengan tegas.
"Jangan sampai hal seperti ini terulang kembali. Save Gajah #RIPYongki," katanya.
Tagar #RIPYongki terus digunakan sebagai simbol berdukanya netizen Indonesia atas kepergian gajah penjaga perdamaian itu. Tagar tersebut sempat menduduki topik tren di Indonesia. Pembunuhan Yongki di dekat pos pemantauan merupakan sinyal perang dari mafia perdagangan gading untuk para aparat dan pembela konservasi. Netizen berharap kematian Yongki harus diusut dengan serius. (*)
