![]() |
| Salah satu aksi H Mukri MZ (pakaian hitam bersorban) semasa hidup. (ist) |
LAMPUNG - Guru besar Paguyuban Paku Banten Lampung H Mukri MZ berpulang ke Rahmatullah, Jumat (11/9/2015), sekitar pukul 21.00 di RS Urip Sumoharjo, Bandar Lampung. Jenazah lalu disemayamkan di rumah duka, Jalan Pulau Morotai No 99, Sukarame, Bandar Lampung.
Setelah dimandikan dan dikafani, selanjutnya jenazah pria yang dikenal baik itu lalu dishalatkan di Masjid Banten Girang, dan kemudian almarhum dimakamkan di tempat pemakaman umum (TPU) Kebon Jahe, sekitar pukul 13.00, Sabtu (12/9/2015).
Almarhum yang biasa disapa Abah Mukri meninggal dalam usia 62 tahun, setelah mengidap penyakit komplikasi sejak dua tahun belakangan. Sebelum meninggal, almarhum sempat dirawat di beberapa rumah sakit, di antaranya di Singapura dan Jakarta.
H. Mukri bin Marzuki meninggalkan seorang istri Hj Maimunah, 4 putra 1 putri yakni Maeva Febriana, Hendra Mukri, Hendri Mukri, Fera Anggraini, dan Muhamad Fahri, serta 8 cucu.
Almarhum dikenal sebagai sosok sederhana, berjiwa sosial tinggi dan suka membantu terhadap sesama. Begitulah warga sekitar mengenal almarhum H. Mukri MZ.
"Saya atas nama kelurga besar menyampaikan permohonan maaf yang sebesar-besarnya, jika semasa hidup almarhum ayah saya sekaligus Paguyuban Paku Banten, jika ada salah baik perilaku, ucapan, dan perbuatan yang menyakiti. Atas nama keluarga besar, saya mohon maaf," ujar Hendra Mukri, anak kedua almarhum H Mukri MZ.
Menurut Hendra, almarhum ayahnya itu sosok yang luar biasa dalam keluarga ataupun di organisasi yang ia dirikan. Hendra mengatakan, ayahnya orang yang tegas dan memiliki jiwa sosial yang tinggi.
"Saya harap mudah-mudahan bisa melanjutkan apa yang sudah menjadi amanah beliau, bisa berjalan untuk membantu masyarakat luas, terus melanjtukan kegiatan agama seperti yang beliau inginkan, karena tembok atau kunci sukses Paku Banten bagi kami adalah agama," ujar Hendra Mukri, sekaligus anggota Komisi II DPRD Kota Bandar Lampung ini.
Semasa mendirikan organisasi Paku Banten, lanjut dia, almarhum ayahnya menjadi inspirasi baginya, karena semasa kepemimpinannya, almarhum tidak pernah membedakan antara atasan dan bawahan.
"Saya berharap Paku Banten terus berjalan seperti semula, membantu masyarakat dan ke depan akan terus berkibar dan terus besar, serta berjalan seperti sediakala," ungkap politisi Partai Demokrat ini.
Menurut Hendra, meski ayahnya tidak berpendidikan tinggi, di mata masyarakat dan keluarga beliau adalah sosok yang luar biasa.
"Dibilang berpendidikan tinggi tidak, tetapi karena kegigihannya, beliau mampu menciptakan organisasi yang besar, dicintai banyak masyarakat baik di Bandar Lampung maupun di provinsi ini," kata Hendra.
Seorang kerabat dekat H Mukri, Ewin, mengatakan semua orang segan terhadap Abah Mukri bukan karena sosoknya yang keras, seperti yang sering dilihat saat menunjukkan aksi debusnya. Melainkan di mata anggota Paku Banten dan keluarga, almarhum berhati mulia.
Menurut Ewin, karena jiwa almarhum dikenal tegas semasa kepemimpinnya sebagai guru besar Paku Banten, tidak ada seorang pun pengikut H. Mukri yang membantah atau membangkang.
"Kami kenal Abah ini tegas, kami segan karena beliau ini betul-betul baik di mata kami, kalau marah bisa dibilang beliau tidak pernah," ungkap Ewin.
Menurut dia, karena dikenal baik ,abah dikenal sebagai tokoh besar sekaligus banyak dikenal tokoh-tokoh besar di provinsi ini.
"Yang datang saja ramai betul, itu menunjukkan semasa hidupnya beliau baik di mata masyarakat," ungkapnya, seperti dilansir Lampost.
Yang paling susah dilupakan, menurut Ewin, Abah Mukri selalu memberi pengarahan untuk tidak menindas masyarakat lemah, selalu berjiwa sosial, dan terus berbuat baik terhadap sesama.
"Sejak berdirinya Paku Banten sampai sekarang, setiap malam Jumat selalu membaca Yasin. Di situlah Abah sering memberi pengarahan kepada kami untuk terus berbuat baik," kata dia. (*)
