Notification

×

Rabu Pagi Nilai Tukar Rupiah Rp 14.446

16 September 2015 | 1:09 PM WIB Last Updated 2015-09-16T06:12:32Z

LAMPUNG ONLINE - Nilai tukar rupiah yang ditransaksikan antarbank di Jakarta pada Rabu pagi (16/9/2015) turun 38 poin menjadi Rp14.446, dibandingkan posisi sebelumnya Rp14.408 per dolar AS.

"Rupiah kembali berada di area negatif, seiring belum adanya sentimen positif yang dapat meyakinkan pelaku pasar bahwa perekonomian domestik akan membaik secara berkelanjutan," kata Kepala Riset NH Korindo Securities Indonesia Reza Priyambada di Jakarta, Rabu.

Ia mengatakann sentimen dari dalam negeri mengenai data neraca perdagangan Indonesia yang telah dirilis Badan Pusat Statistik tampaknya tidak terlalu mendapat respon positif dari pelaku pasar.

BPS mencatatn neraca perdagangan Indonesia pada Agustus 2015 surplus sebesar 433,8 juta dolar AS, yang dipicu oleh surplus sektor nonmigas sebesar 1,01 miliar dolar ASn meskipun sektor migas mengalami defisit 580 juta dolar AS.

Sementara itu, lanjut dia, kabar mengenai pertumbuhan kredit di negara-negara berkembang yang mengkhawatirkan dan lebih rentan terhadap krisisn menambah sentimen negatif pada laju mata uang Asia, termasuk rupiah.

"Fluktusi mata uang rupiahn juga diprediksi masih akan tinggi menyusul belum adanya kepastian mengenai rencana the Fed untuk menaikan suku bunganya. Kondisi itu semakin membuat mata uang di negara-negara berkembang termasuk Indonesian menjadi kurang menarik," katanya, seperti dilansir Skalanews.

Sementara itu, Kepala Riset Monex Investindo Futures Ariston Tjendra mengatakann bahwa dolar AS menguat di awal perdagangan Asia, termasuk di Indonesia menyusul beragamnya sentimen di pasar keuangan global.

"Data belanja konsumen AS yang baik mempertahankan harapann bahwa the Fed akan menaikan suku bunganya pada September ini. Namun, inflasi Amerika Serikat yang masih jauh di bawah target the Fed untuk tiga tahun terakhir, dan pertumbuhan upah yang tidak sejalan dengan pemulihan di pasar kerja AS, juga menciptakan teka-teki langkah the Fed," katanya.

Sentimen yang bervariasi itu, menurut dia, membuat pelaku pasar memilih langkah aman dengan memegang dolar AS karena dinilai minim risiko dibandingkan mata uang lainnya.(*)