![]() |
| Joseph Blatter |
LAMPUNG ONLINE - Presiden
FIFA Non Aktif Joseph Blatter atau Sepp Blatter akhirnya membeberkan
mengapa Amerika Serikat membuat serangan ke Federasi Internasional
Asosiasi Sepak Bola (FIFA).
Menurut
Blatter, ini karena Amerika gagal menjadi tuan rumah Piala Dunia. AS
mengajukan diri sebagai tuan rumah Piala Dunia 2022. Namun, FIFA malah
memilih Qatar. FIFA juga menetapkan Rusia sebagai tuan rumah Piala Dunia
2018.
Menurut Blatter menyebutkan, Presiden Asosiasi Sepak Bola Uni Eropa (UEFA) Michel Platini menggunakan pemilihan tuan rumah Piala Dunia itu untuk mendorong AS memporakporandakan FIFA.
Menurut Blatter menyebutkan, Presiden Asosiasi Sepak Bola Uni Eropa (UEFA) Michel Platini menggunakan pemilihan tuan rumah Piala Dunia itu untuk mendorong AS memporakporandakan FIFA.
"Platini
memulai konflik ini. Ketika berkembang menjadi politik, masalahnya
tidak lagi Platini melawan saya," ujarnya dalam sebuah wawancara dengan
kantor berita Rusia TASS dan dilansir Tempo, Kamis (29/10/2015).
Platini memanfaatkan AS untuk kepentingan politiknya untuk menggusur Blatter. "Karena ia ingin menjadi presiden FIFA. Tapi, ia tidak berani bertarung menjadi presiden," tambah Blatter.
Blatter menambahkan, UEFA ingin mendominasi di FIFA sejak lama. UEFA berkehendak untuk mengubah organisasi FIFA. "UEFA ingin membuat FIFA kelompok dari enam federasi saja. Konfederasi lain takut UEFA akan menguasai karena mereka punya uang dan pemain," tuding Blatter.
Platini memanfaatkan AS untuk kepentingan politiknya untuk menggusur Blatter. "Karena ia ingin menjadi presiden FIFA. Tapi, ia tidak berani bertarung menjadi presiden," tambah Blatter.
Blatter menambahkan, UEFA ingin mendominasi di FIFA sejak lama. UEFA berkehendak untuk mengubah organisasi FIFA. "UEFA ingin membuat FIFA kelompok dari enam federasi saja. Konfederasi lain takut UEFA akan menguasai karena mereka punya uang dan pemain," tuding Blatter.
Selain
itu, Blatter mencatat, Inggris akhirnya turut menyerang FIFA karena
alasan sama. "Inggris kalah dari Rusia. Mereka gagal menjadi tuan rumah
Piala Dunia. AS kalah dari Qatar," katanya.
Meskipun mendapat serangan bertubi-tubi, Blatter yakin FIFA akan tetap bertahan. "FIFA bukan peruahaan komersil. Jadi, apa yang mereka lakukan bersama dengan Swiss, mereka menciptakan serangan ini melawan FIFA dan presiden FIFA.
Kejaksaan Agung Amerika Serikat tengah melakukan penyelidikan terhadap skandal korupsi FIFA. Jaksa mempertanyakan pembayaran uang sebesar $ 2 juta dari Blatter ke Platini. Inggris juga akhirnya turun tangan terhadap kasus ini. Inggris menahan semua pejabat FIFA agar tidak beepergian ke luar negeri.
Skandal ini mengakibatkan geger di tubuh FIFA. Buntutnya, FIFA menggelar kongres luar biasa untuk memilih pengganti presiden Blatter. Kongres itu akan digelar di Zurich pada 26 Februari 2016. Hingga saat ini, enam kandidat secara resmi tercatat maju sebagai calon presiden. Di antaranya adalah Michel Platini. (*)
Meskipun mendapat serangan bertubi-tubi, Blatter yakin FIFA akan tetap bertahan. "FIFA bukan peruahaan komersil. Jadi, apa yang mereka lakukan bersama dengan Swiss, mereka menciptakan serangan ini melawan FIFA dan presiden FIFA.
Kejaksaan Agung Amerika Serikat tengah melakukan penyelidikan terhadap skandal korupsi FIFA. Jaksa mempertanyakan pembayaran uang sebesar $ 2 juta dari Blatter ke Platini. Inggris juga akhirnya turun tangan terhadap kasus ini. Inggris menahan semua pejabat FIFA agar tidak beepergian ke luar negeri.
Skandal ini mengakibatkan geger di tubuh FIFA. Buntutnya, FIFA menggelar kongres luar biasa untuk memilih pengganti presiden Blatter. Kongres itu akan digelar di Zurich pada 26 Februari 2016. Hingga saat ini, enam kandidat secara resmi tercatat maju sebagai calon presiden. Di antaranya adalah Michel Platini. (*)
