![]() |
| (foto: istimewa) |
LAMPUNG -
Memburuknya perekonomian di Provinsi Lampung berdampak terhadap
meningkatnya pengangguran terbuka. Jika bulan Februari 2015 pengangguran
terbuka di daerah ini masih sebesar 3,44 persen, maka pada Agustus 2015
meningkat menjadi 5,14 persen atau naik 1,7 poin.
Demikian disampaikan Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Lampung Adhi Wiriana di Bandar Lampung.
Demikian disampaikan Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Lampung Adhi Wiriana di Bandar Lampung.
“Terjadi peningkatan 1,7 poin dibandingkan bulan Februari. Angka ini setara dengan penambahan pengangguran sebanyak 57.300 orang,” ujar Adhi kepada pers yang ditulis pada Jumat (6/11/2015).
Jumlah pengangguran itu didominasi lulusan SMA umum dan SMK. Mungkin karena pengangguran pendidikan ini sangat pemilih untuk pekerjaan, misalnya tak mau kerja berat atau maunya bekerja di sektor formal.
Daerah perkotaan masih menjadi kantong pengangguran. Hal ini ditunjukkan dengan tingkat pengangguran terbuka di kota yang mencapai 7,82 persen dibanding pedesaan 4,12 persen.
“Meskipun secara absolut jumlah pengangguran lebih banyak di pedesaan sebanyak 114.800 orang dibanding perkotaan sebanyak 82.100 orang,” jelas Adhi.
Namun, jumlah angkatan kerja atau penduduk bekerja dan pencari kerja di Lampung justru menurun. Pada Agustus 2015 jumlah angkatan kerja 3.832.100 orang atau berkurang 5,63 persen dibanding Februari 2015. Penurunan ini tergambar pada tingkat partisipasi angkatan kerja (TPAK) Agustus 2015 sebesar 65,6 persen atau turun 4,35 poin.
“Penurunan TPAK ini karena keluarnya penduduk usia kerja (15 tahun ke atas) dari kegiatan bekerja dan mencari kerja. Sebab, orang usia kerja yang mengurus rumah tangga mengalami peningkatan,” ujar Adhi.
Dijelaskannya, jumlah penduduk yang bekerja di Provinsi Lampung sebanyak 3.635.300 orang atau mengalami penurunan penyerapan sekitar 7,29 persen dari semester sebelumnya. Sektor pertanian masih mendominasi lapangan pekerjaan utama penduduk, yaitu sekitar 48,78 persen.
Walaupun pada periode Februari hingga Agustus 2015 jumlah pekerja pertanian mengalami penurunan, seperti dilansir Sinarharapan.
“Mungkin pengaruh musim kemarau atau adanya badai El Nino yang melanda Lampung,” ia memperkirakan.
Ditambahkannya, status pekerjaan didominasi pekerja informal, yakni 70,8 persen. Sedangkan pekerja formal sekitar 29,2 persen.
“Proporsi pekerja formal menurun dibanding semester sebelumnya (Februari 2015), yakni sekitar 29,8 persen,” urainya. (*)
