Notification

×

Macet, Bandar Lampung Diusulkan Jadi Kota Mega Metropolitan

23 December 2015 | 3:58 PM WIB Last Updated 2015-12-24T08:58:36Z
Arus lalulintas di Jalan Raden Intan, Kota Bandar Lampung, pada jam sibuk. (ist)

LAMPUNG -
  Dalam waktu sepuluh tahun mendatang, diprediksi tingkat kemacetan di Kota Bandar Lampung akan sulit diatasi, sehingga sudah selayaknya ibukota Provinsi Lampung ini dijadikan sebagai Kota Mega Metropolitan. 

Selanjutnya, sejumlah daerah perbatasan Bandar Lampung seperti Kabupaten Pesawaran, Pringsewu dan Kota Metro dapat dirancang menjadi daerah kawasan, layaknya Jabodetabek di dekat ibu kota Jakarta.

Atas dasar itu, Pemerintah Provinsi (Pemprov) Lampung sudah berkoordinasi dengan pemerintah pusat, agar hal itu terwujud. Sebab, Bandar Lampung dinilai sudah sangat layak untuk dikembangkan sebagai ibu kota provinsi, yang notabene sebagai pintu masuk pulau Sumatera.

“Saya sudah koordinasikan hal itu dengan pemerintah pusat. Mudah-mudahan segera terwujud,” ujar Gubernur Lampung M Ridho Ficardo, saat menjadi keynote speaker pada seminar Lampung Economic Outlook 2016, di Auditorium Bank Indonesia Perwakilan Lampung, seperti dilansir dari Harianlampung pada Rabu (23/12/2015).

Selain itu, Ridho juga sedang merancang agar di Kota Bandar Lampung segera dibangun jalur bawah tanah (subway). Sebab, saat ini merupakan waktu tepat untuk mewujudkannya.

“Jika menunggu Kota Bandar Lampung semacat Jakarta. Tentu akan sulit terlaksana,” ujarnya.

Dia mencontohkan, kota New York membangun Subway sekitar tahun 1900an sedangkan London sekitar tahun 1800an. Artinya, pemerintah di sana sudah memikirkan perkembangan jalur transportasinya sejak dini.

“Makanya, kita juga perlu memikirkan dampak kemajuan kota Bandar Lampung sejak dini. Ibarat sakit, jika telat tentu akan susah diobati,” tuturnya.

Ridho menjelaskan, salah satu tanda- tanda daerah maju adalah tingkat kemacetan lalu lintas. Di Bandar Lampung, hal itu sudah mulai dirasakan. Terutama pada sejumlah jalan protokol yang padat kendaraan.

Saat ini, kata dia, pembangunan jembatan layang (flyover) merupakan obat sementara. Seiring kemajuan daerah, flyover tentu tidak akan bisa menampung semua kendaraan di kota ini.

“Pembangunan flyover itu bagus, tapi kita tidak bisa berdiam diri. Harus ada terobosan lain seperti subway,” katanya,seperti dilansir Harianlampung.

Kendati demikian, kata Ridho, konsep Kota Mega Metropolitan tidak akan terwujud begitu saja, butuh dana besar untuk merealisasikannya. Untuk satu kilometer subway saja, paling tidak dibutuhkan dana sekitar Rp 3 Triliun.

“Memang, investasi pembangunannya membutuhkan waktu lama untuk balik modal. Tetapi, jika sudah terealisasi tentu anak cucu kita akan menikmati hasilnya nanti,” kata dia.

Pemprov Lampung, kata dia, akan terus menjemput bola ke pusat guna mencari anggaran itu. “Sebab, APBD Lampung tidak akan sanggup membiayainya,” pungkas Ridho.

Diketahui, saat ini kondisi lalulintas di Kota Bandar Lampung tidak berbeda jauh dengan Jakarta. Kemacetan sudah mengepung kota karena pertumbuhan kendaraan tidak sebanding dengan penambahan ruas jalan.

Untuk menempuh jarak delapan hingga sepuluh kilometer paling tidak dibutuhkan waktu tempuh sekitar 30 hingga 45 menit. Terlebih, pada saat jam- jam tertentu. Ketika pagi hari dan sore, saat jam kantor usai. Macet sudah menjadi santapan warga Bandar Lampung.

Menurut Ketua Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI) Lampung, IB Ilham Malik, kemacetan kendaraan di kota Tapis Berseri saat ini kemungkinan besar disebabkan oleh pertumbuhan kendaraan roda dua (R2) yang relatif signifikan.

Dalam kurun waktu lima tahun terakhir (2005-2010), pertumbuhan kendaraan mencapai 200 persen. Persentase pertumbuhan itu, diperkirakan terus meningkat hingga 400 persen. (*)