Notification

×

Tanggapi Tulisan Rektor ITK Budi, UAS: Hanya Keturunan PKI yang Benci Islam!

13 May 2022 | 10:26 AM WIB Last Updated 2022-05-13T03:27:09Z

Ustadz Abdul Somad (Foto: Istimewa)


JAKARTA - Ustadz Abdul Somad (UAS) ikut mengomentari tulisan Rektor Institut Teknologi Kalimantan (ITK) Profesor Budi Santosa Purwokartiko, yang dinilai berbau SARA karena menyinggung soal penutup kepala (hijab) ala manusia gurun.

Ulama kondang lulusan Universitas Al-Azhar Mesir ini mengaku sangat prihatin dengan yang disampaikan Profesor Budi di akun media sosialnya beberapa waktu lalu itu.

"Ada seorang rektor yang lagi viral di media sosial. Saya baca unggahannya, sangat menghina mahasiswi muslim," kata UAS dalam kajian Al-Qur'an, yang dikutip dari kanal YouTube Tabung Wakaf Umat Official, Kamis (12/5/2022).


Dia lantas mempertanyakan gelar guru besar yang disandang Budi.

Sebagai akademisi, tidak pantas seorang guru besar berbicara yang melecehkan agama Islam.

"Profesor kok bicara seperti itu. Mengatakan mewawancarai 12 mahasiswi yang tidak satu pun menutup kepala ala manusia gurun. Itu sama saja menghina mahasiswi muslim," tegas UAS, dilansir jpnn.com.

Ulama kelahiran Asahan, Sumatera Utara, 18 Mei 1977 itu menegaskan, yang menghina Islam hanya dua kategori.

"Pertama, golongan kaum musyrikin. Kedua, kalaupun beragama Islam, pastilah keturunan komunis. Hanya keturunan PKI yang membenci Islam dan itu sudah terbukti," jelas UAS.

Dijelaskan, sejumlah kasus penghinaan terhadap Islam, setelah ditelusuri asal usul pelakunya ternyata ada keturunan PKI atau komunis.

Sebab, lanjut UAS, tidak akan mungkin umat Islam sejati menghina saudara seimannya.

"Makanya, orang tua harus membentengi anak-anaknya dengan pendidikan agama yang kuat, agar ketika kuliah dan bertemu dosen atau rektor seperti itu bisa membela agamanya," imbau UAS.

Diketahui, Rektor ITK, Budi Santosa viral di media sosial gegara unggahannya soal penerima beasiswa Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP).

Dalam akunnya di Facebook, Profesir Budi menuliskan, dari 12 mahasiswi yang diwawancarainya tidak satu pun menutup kepala ala manusia gurun.

"Otak mereka benar-benar open mind. Mereka mencari Tuhan ke negara-negara maju, seperti Korea, Eropa barat, dan US. Bukan ke negara yang orang-orangnya pandai bercerita tanpa karya teknologi." tulsi Budi. (*)