BANDAR LAMPUNG - Kinerja Presiden Joko Widodo (Jokowi) kembali mendapat sorotan dari berbagai elemen bangsa. Kali ini datang dari Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Bandar Lampung, Provinsi Lampung. Dengan menggelar aksi damai di Jalan ZA Pagar Alam, Lanbuhan Ratu, Rabu (15/4/2015), ratusan mahasiswa memprotes kinerja Jokowi yang hanya banyak janji dan pencitraan.
"Jokowi banyak janji, tanpa realisasi. Banyak pencitraan tanpa tindakan. Jokowi adalah antek asing, antek Yahudi. Ini dibuktikan dengan penyerahan mekanisme penentuan harga BBM kepada pasar, yang tidak memberikan maslahat kepada rakyat, melainkan kepada pengusaha dan elit. Jokowi terbukti tidak berpihak kepada wong cilik," kata koordinator aksi, Zardinal Pratama, dalam orasinya.
Aksi yang dimotori HMI Komisariat Fakultas Hukum Universitas Bandar Lampung (UBL) itu juga menyoroti perpanjangan kontrak Freeport di Papua. Menurut Zardinal, tindakan tersebut justru berarti negara sudah melegalkan tindakan pengerukan sumber daya alam oleh asing, seperti dilansir Harianlampung.
"Di tengah-tengah kritisnya kondisi ekonomi dan politik negara, presiden justru sibuk silaturahmi ke luar negeri. Ini menjadi indikasi kuat, kalau presiden tidak peduli dengan kondisi negara saat ini," tukas Zardinal.
Semula massa hendak membakar ban di tengah badan Jalan ZA Pagar Alam. Namun, setelah negoisasi dengan polisi, aksi bakar ban dialihkan ke pelataran parkir Kampus UBL. Saat api mulai berkobar, koordinator aksi, Zardinal Pratama mulai membacakan puisi berjudul 'Negeri Para Bedebah'.
"Negeri bedebah, yang membuat rakyatnya mencari rezeki dari mengais sampah, dari menjadi kuli di negeri orang lain, sedangkan para pejabat menikmati fasilitas mewah," kata Zardinal dengan nada suara bergetar.
Dalam aksi itu, mahasiswa menyampaikan tuntutan, penurunan harga BBM dan penstabilan harga bahan pokok. Selanjutnya demonstran membakar ban di pelataran parkir Kampus UBL, sambil membaca puisi bernada protes terhadap kebijakan Presiden Joko Widodo yang dinilai banyak menyengsarakan rakyat.
"Disadari atau tidak BBM adalah benda yang memiliki dampak ekonomis dan politis yang besar, menempatkannya di tangan pasar sama saja dengan menyerahkan negara kepada liberalisme pasar," jelasnya. Sekitar pukul 14.00 WIB, massa akhirnya membubarkan diri dengan tertib.
Sebelumnya, polisi menghalangi massa yang hendak menutup total Jalan ZA Pagar Alam. Untuk mencegah aksi berkembang menjadi anarkis, polisi melakukan mediasi.
"Kami tidak menghalangi mahasiswa melakukan aksi. Kami hanya membatasi agar orasi tidak menutup jalan. Tolong hormati hak pengguna jalan," kata Kabag Ops Polresta Kompol Fidel Timurtanto. Untuk mengamankan situasi, Polresta Bandar Lampung mengerahkan 120 anggota pasukan Pengendalian Massa (Dalmas). Polisi juga mensiagakan 4 mobil water cannon di Pom Bensin dekat kampus UBL.
Polisi meminta mahasiswa untuk tidak bersikap anarkis. Demonstran juga diminta tidak maju ke badan jalan, cukup hanya sampai batas trotoar. Polisi membatasi area aksi dengan police line. Meski demikian, demonstran bersikukuh maju untuk menggelar aksi dengan menutup badan jalan. Akibatnya arus kendaraan di Jalan ZA Pagar alam padat merayap, karena sebagian badan jalan dipakai sebagai arena orasi.
Demonstran mengancam akan menurunkan massa yang lebih besar dalam aksi berikutnya pada tanggal 1, 2 dan 20 Mei mendatang. (*)
Semula massa hendak membakar ban di tengah badan Jalan ZA Pagar Alam. Namun, setelah negoisasi dengan polisi, aksi bakar ban dialihkan ke pelataran parkir Kampus UBL. Saat api mulai berkobar, koordinator aksi, Zardinal Pratama mulai membacakan puisi berjudul 'Negeri Para Bedebah'.
"Negeri bedebah, yang membuat rakyatnya mencari rezeki dari mengais sampah, dari menjadi kuli di negeri orang lain, sedangkan para pejabat menikmati fasilitas mewah," kata Zardinal dengan nada suara bergetar.
Dalam aksi itu, mahasiswa menyampaikan tuntutan, penurunan harga BBM dan penstabilan harga bahan pokok. Selanjutnya demonstran membakar ban di pelataran parkir Kampus UBL, sambil membaca puisi bernada protes terhadap kebijakan Presiden Joko Widodo yang dinilai banyak menyengsarakan rakyat.
"Kami tidak menghalangi mahasiswa melakukan aksi. Kami hanya membatasi agar orasi tidak menutup jalan. Tolong hormati hak pengguna jalan," kata Kabag Ops Polresta Kompol Fidel Timurtanto. Untuk mengamankan situasi, Polresta Bandar Lampung mengerahkan 120 anggota pasukan Pengendalian Massa (Dalmas). Polisi juga mensiagakan 4 mobil water cannon di Pom Bensin dekat kampus UBL.
Polisi meminta mahasiswa untuk tidak bersikap anarkis. Demonstran juga diminta tidak maju ke badan jalan, cukup hanya sampai batas trotoar. Polisi membatasi area aksi dengan police line. Meski demikian, demonstran bersikukuh maju untuk menggelar aksi dengan menutup badan jalan. Akibatnya arus kendaraan di Jalan ZA Pagar alam padat merayap, karena sebagian badan jalan dipakai sebagai arena orasi.
Demonstran mengancam akan menurunkan massa yang lebih besar dalam aksi berikutnya pada tanggal 1, 2 dan 20 Mei mendatang. (*)
