Notification

×

Beras Plastik, Pedagang di Lampung Gundah, Konsumen Resah

24 May 2015 | 5:42 AM WIB Last Updated 2015-05-23T22:46:18Z
Salah satu cara pengujian beras plastik dengan dibakar. (ist)

LAMPUNG - Kendati hingga Jumat (22/5/2015) belum ditemukan beras campur plastik di Provinsi Lampung, heboh beras sintetis tidak hanya membuat resah konsumen, tapi juga pedagang. Para pedagang ditanya macam-macam oleh konsumen dan tidak sedikit konsumen yang akhirnya hanya membeli sedikit beras karena khawatir beras yang dijual bercampur plastik. 

Rosdiana Damanik (45), pedagang beras di Pasar Way Halim, Kota Bandar Lampung, mengaku, sejak ada isu beras bercampur plastik ia menyetop menampung beras karungan bermerek yang berasal dari Pulau Jawa. 

“Ya jelas khawatir, sebab kita tidak tahu isi di dalam karungnya. Dan kalau ternyata ada plastiknya mau klaim susah,” ujar pedagang yang berasal dari Sumatera Utara ini, Jumat. 

Kini, ia hanya menjual beras karungan bermerek yang diproduksi penggilingan yang tersebar di Provinsi Lampung, seperti dari Kabupaten Pringsewu, Tanggamus, Lampung Tengah dan Kota Metro. 

“Jika ada apa-apa, kami bisa langsung kontak penggilingannya,” lanjutnya. 

Rosdiana mengaku, memang belum ada penurunan omzet penjualan sejak heboh beras plastik, namun, konsumen banyak yang menanyakan mana beras yang tidak mengandung plastik. 

Ada pula yang biasanya membeli beras satu karung isi 25 kilogram, kini hanya 10 kilogram. Karena itu agar isu ini tidak sampai merugikan para pedagang, Ros minta pemerintah mengusut tuntas pihak yang memproduksi dan mengedarkan beras plastik tersebut, di samping memberi penjelasan secara gamblang merek berasnya, ciri-ciri dan tanda-tandanya sehingga pedagang dan konsumen mengetahui. 

“Ini tidak, kemarin (Kamis) ada rombongan orang Pemda datang ke sini, tapi tidak menjelaskan secara detil seperti apa beras plastik itu,” jelasnya. 

Ros menyarankan untuk menenangkan warga dan pedagang, alangkah baiknya pemerintah membuat poster tentang ciri-ciri beras plastik lalu ditempel di pasar-pasar. 

“Kalau hanya seperti sekarang, kami pedagang maupun konsumen sama-sama cemas kalau-kalau beras dalam karung yang saya jual ini ada yang mengandung plastik,” tambahnya. 

Pedagang beras lainnya di Pasar Way Halim yang ditanya soal dampak beras sintetis terhadap omzet penjualan, menjawab dengan ketus. 

“Nggak tahu saya beras plastik. Yang pasti, beras yang saya jual ini tidak mengandung plastik,” tutur pria setengah baya yang enggan menyebut namanya dengan alasan tidak mau dirinya dikait-kaitkan dengan isu beras berbahaya tersebut. Ia mengaku selama berdagang di Pasar Way Halim selama lebih 20 tahun, yang dijualnya adalah beras yang jelas asalnya, yakni dipasok dari penggilingan di Kota Metro, Pringsewu, Tanggamus dan Pesawaran. 

Ia malah menduga ada pihak-pihak tertentu yang sengaja mencampur beras dengan biji plastik agar warga takut membeli beras lokal sehingga pemerintah kembali membuka keran impor dan akhirnya yang rugi pedagang. 

“Atau bisa jadi ada yang ingin melakukan teror. Kalau selama ini teror pakai bom hanya kecil pengaruhnya, tapi kalau terornya lewat makanan apalagi bahan makanan pokok, satu negara bisa kacau,” pria yang rambutnya mulai memutih ini menduga-duga, seperti dilansir Sinarharapan

Beralih ke Penggilingan 

Tidak hanya pedagang, warga pun ikut resah akibat beras plastik. Apalagi penemuan beras sintetis ini makin meluas, dari awalnya hanya di Bekasi, tapi kini juga ditemukan di Bogor, Provinsi Jawa Barat. Meski dari dua hari sidak yang dilakukan Pemprov Lampung ke pasar-pasar tradisional di Kota Bandarlampung tidak ditemukan beras bercampur plastik, warga mulai paranoid terhadap bahan makanan pokok ini. 

Hamid Johan (40), warga Perumdam, Kelurahan Tanjungsenang, Kecamatan Tanjungsenang, Kota Bandarlampung, misalnya, termasuk salah satu warga yang paranoid dengan adanya isu beras plastik. Sejak muncul pemberitaan di berbagai media adanya beras bercampur plastik, Hamid yang biasanya membeli beras di pasar tradisional, langsung beralih ke penggilingan padi yang hanya berjarak 2 kilometer dari rumahnya. 

“Ya daripada keluarga saya makan plastik, mendingan cari amannya saja. Kalau di penggilingan bisa lihat sendiri padi yang digiling lalu keluar berasnya dan dibeli,” ujar Hamid, Jumat siang. 

Selain yakin keaslian berasnya, menurut Hamid, beli beras di penggilingan lebih baru dan harganya pun lebih murah Rp 200-500 per kilogram dibandingkan jika beli di toko, karena membeli dari tangan pertama. 

“Agar tidak repot, sekali beli langsung 20 kilogram,” lanjut ayah dari seorang remaja putri ini. 

Cici (38), pedagang lontong sayur di Pasar Rajabasa, termasuk yang resah atas isu beras plastik. Pasalnya, konsumennya jadi ragu-ragu membeli lontong. Padahal, ia sudah meneliti benar beras yang dibelinya. 

Karena itu ia minta pihak Badan Urusan Logistik (Bulog) turun tangan dengan menjual beras merek Bulog yang dijamin keasliannya. 

“Coba Bulog memasok beras produksinya ke pasar-pasar tradisional sehingga konsumen yakin berasnya tidak bercampur plastik,” pintanya. 

Kalau kasus beras plastik tidak tuntas, Cici memastikan akan berdampak kepada pedagang yang dagangannya berbahan baku beras seperti pedagang lontong, ketupat, sate, nasi uduk. Ayo pemerintah, tuntaskan masalah ini jika tak ingin negara makin kacau dan ekonomi kian melorot! (*)