Notification

×

Harga di Pasar Global Turun, Ekspor Kopi Lampung Merosot

05 July 2015 | 8:45 AM WIB Last Updated 2015-07-05T01:45:34Z

LAMPUNG - Penurunan harga kopi di pasar global turut berpengaruh terhadap kinerja ekspor kopi Lampung di bulan Juni lalu. Volume ekspor biji kopi robusta dari Provinsi Lampung pada Juni 2015 mengalami penurunan dibandingkan dengan sebulan sebelumnya.

Berdasarkan data yang dihimpun Asosiasi Eksportir dan Industri Kopi Indonesia (AEKI) Daerah Lampung dari Dinas Perdagangan Provinsi Lampung, ekspor kopi pada Juni 2015 adalah 21.890,73 ton. Sementara ekspor kopi selama bulan Mei 2015 melalui Pelabuhan Panjang Lampung sekitar 25.223 ton, naik tipis dibandingkan dengan periode April tahun 2015 sebesar 25.197 ton.

Sementara harga kopi robusta di Bursa Berjangka Komoditas di London, Inggris pada penutupan Kamis (2/7/2015) waktu setempat sebesar US$ 1.745 per ton untuk pengiriman September yang berarti mengalami penurunan sebesar US$ 112 per ton selama sepekan sebelumnya. Pada penutupan Senin (22/6) waktu setempat sebesar US$ 1.857 per ton untuk pengiriman bulan Juli.

Menurut Ketua Kompartemen Perencanaan, Penelitian dan Pengembangan (Renlitbang) AEKI Daerah Lampung, Muchtar Lutfie, laju ekspor kopi tertahan akibat merosotnya harga kopi global. Padahal sebetulnya pasokan kopi ke gudang eksportir banyak, karena panen raya kopi sudah dimulai. 

“Stok kopi di gudang-gudang eksportir melimpah seiring musim panen kopi," ujar Muchtar Lutfie, seperti dilansir dari Sinarharapan pada Minggu (5/7/2015). Ia memperkirakan, harga kopi di pasar internasional terus tertekan karena kopi Vietnam membanjiri pasar. 

“Sebetulnya Vietnam panen akhir tahun lalu, tapi stok kopinya masih banyak sehingga membanjiri pasar,” lanjutnya. Muchtar prihatin dengan turunnya harga kopi karena kenaikan produksi kopi pada musim panen tahun ini yang diperkirakan hingga 20 persen tidak banyak dinikmati petani. 

“Apalagi jika kurs rupiah terhadap dolar AS menguat maka harga kopi di dalam negeri akan ikut turun,” ungkapnya.

Sunyoto, petani kopi di Pekon Pugung Tampak, Kecamatan Way Tenong, Kabupaten Lampung Barat, mengatakan harga biji kopi asalan di daerahnya masih pada kisaran Rp 21.000 hingga Rp 22.000 per kilogram. Sedangkan harga basis di Bandar Lampung berada di harga Rp 24.500 per kilogram.

Ketua Kelompok Tani ini mengkhawatirkan merosotnya harga kopi di luar negeri ikut berpengaruh terhadap harga kopi di tingkat petani. 

“Terutama menjelang Lebaran mendatang, karena banyak petani menjual kopi guna memenuhi kebutuhan keluarga berlebaran,” tuturnya.

Luas lahan perkebunan kopi di Provinsi Lampung sekitar 160.565 hektare atau 472,01 juta pohon yang diusahakan sekitar 202.858 kepala keluarga petani dan produksi sekitar 140.000 ton per tahun. Dengan produksi sebanyak itu, Lampung merupakan daerah produsen kopi terbesar di Tanah Air.

Sentra kopi di Provinsi Lampung terdapat di Kabupaten Lampung Barat, Way Kanan, Lampung Utara, Tanggamus dan Lampung Utara. Dari lima kabupaten tersebut, Lampung Barat merupakan sentra terbesar dengan produksi sebanyak 60.000 hingga 70.000 ton per tahun. (*)