Notification

×

Lahan Tol Diklaim Pihak Lain, Warga Bakauheni Gelar Istighosah

28 July 2015 | 9:32 PM WIB Last Updated 2015-07-29T01:53:25Z
Seorang warga Bakauheni yang lahannya digusur pembangunan tol sedang menjelaskan kepada wartawan (ist)

LAMPUNG SELATAN - Tak berdaya menghadapi penguasa dan pihak yang mengklaim lahannya, dalam pembangunan jalan tol trans Sumatera ruas Bakauheni-Terbanggi Besar, ratusan warga Dusun Kenyayan, Desa Bakauheni di Kabupaten Lampung Selatan, Provinsi Lampung, menggelar istighosah dan zikir bersama memohon kepada Allah SWT.

Mereka menggelar kegiatan itu di lokasi pembangunan jalan tol trans Sumatera, pasar buah dusun setempat, Selasa (28/7/2015). Kegiatan ini digelar untuk mendoakan keselamatan warga yang rumah dan lahannya terkena gusur akibat proyek jalan tol Lampung itu, serta berharap mendapat ganti rugi lahan dan rumah yang sesuai.

Kepala Dusun Kenyayan, Desa Bakauheni, Sobirin, menyebutkan, istighotsah dan doa bersama ini dilakukan dalam rangka mohon keselamatan, akibat rencana pembangunan jalan tol Lampung, dimana banyak lahan warga yang terkena dampaknya.

"Kami selama ini resah dan gelisah soal status tanah yang ada di dusun kami. Apalagi lahan kami dipastikan tergusur, namun kepastian besaran ganti rugi lahan hingga saat ini belum tercapai," ungkapnya.

Warga menggelar istighosah di bawah tenda seadanya, bahkan sebagian besar warga yang terdiri kaum wanita dan anak anak menggelar koran bekas di bawah pohon pisang di kebun. Puluhan anggota Banser dan beberapa anggota TNI dari Koramil Penengahan, serta beberapa anggota polisi dari Polsek Penengahan berpakaian sipil tampak berjaga.

Senada diungkapkan Jarot (45) warga Dusun Kenyayan. Menurut dia, istighosah digelar untuk mendoakan warga setempat yang saat ini sedang diterjang masalah, yakni menolak ganti rugi lahan yang terkena pembangunan jalan tol Lampung.

"Ada pihak lain yang mengklaim tanah yang terkena proyek jalan tol tersebut miliknya. Proses ganti rugi memang sudah dimulai, tapi ada yang mengklaim tanah ini milik dia. Karena itu kami menolak ganti rugi tersebut," ujarnya.


Jarot berharap dengan kegiatan ini kondisi keamanan dan ketertiban wilayah Bakauheni tetap terjaga. Pemerintah diharapkan dapat mengambil keputusan yang terbaik untuk kepentingan masyarakat.

"Sudah 40 tahun saya menempati lahan yang terkena gusur pembangunan jalan tol, tapi tiba-tiba ada yang mengklaim sebagian besar lahan di Kenyayan ini milik mereka. Untuk itu kami menolak ganti rugi lahan," tukasnya.

Jafar (40) warga lainnya mengaku mendukung pembangunan jalan tol. Namun, warga menolak klaim kepemilikan tanah oleh pihak lain. Apalagi, proses ganti rugi lahan beberapa waktu lalu dianggap tidak transparan. Sebab, warga tidak mengetahui pasti besaran ganti rugi lahan per meternya.

"Kita menyayangkan proses ganti rugi yang sudah dilakukan. Padahal proses penyelesaian masalah tanah belum tuntas," ujar dia. (dbs)