Notification

×

Kapolda Lampung Edward: Melawan, Tembak di Tempat !

09 August 2015 | 7:05 PM WIB Last Updated 2015-08-09T12:13:17Z

METRO - Kapolda Lampung Brigjen Edward Syah Pernong geram dengan ulah begal motor. Apalagi setelah satu anak buahnya, Bripka Samsul Muslich, anggota Intelkam Polres Metro ditembak komplotan pencuri motor pada Kamis (6/8/2015). Satu perintah pun datang: tembak di tempat pelaku kejahatan!

"Bila perlu tembak di tempat pelaku kejahatan yang nekat melawan. Namun, upaya pengambilan tindakan tegas harus sesuai prosedur,” tukas jenderal bintang satu itu, saat melihat langsung kondisi korban Samsul, yang dirawat di Rumah Sakit Umum Ahmad Yani, Metro, Jumat (7/8/2015). 

Mantan Kapolwiltabes Semarang itu menghimbau agar kejadian ini tak membuat semangat aparat Polresta Metro dalam memerangi kejahatan turun. Justru sebaliknya, mereka semakin terpacu untuk menangkap para pelaku kriminal yang sangat meresahkan masyarakat itu.

"Unit Jatanras (Kejahatan dan Tindak Kekerasan) Polda Lampung telah saya turunkan untuk membantu Polresta Metro mengejar pelaku penembakan,” ujar pria lulusan Fakultas Hukum Universitas Gadjah Mada (UGM) 1983 tersebut.

Kepada keluarga korban, Kapolda Edward Syah meminta mereka tetap sabar dan tawakal menerima cobaan tersebut. Begitu juga kepada para dokter dan perawat, dia berharap dapat menangani pasien sebaik mungkin agar segera pulih.

Ada tiga agenda dalam kunjungan Kapolda kemarin. Selain mengetahui langsung kondisi Samsul dan memotivasi jajarannya, ia mengecek persiapan Polresta Metro menghadapi pemilihan kepala daerah (pilkada), seperti dilansir Radarlampung.

Sementara, akibat penembakan tersebut usus Bripka Samsul Muslich terpaksa dipotong sepanjang 10 centimeter (cm). Upaya medis ini dilakukan untuk menyelamatkan nyawanya. Peluru menembus perut, merobek usus, dan bersarang di antara tulang rusuknya. Kondisi Samsul sempat kritis hingga dirawat di intensive care unit (ICU) RSU Ahmad Yani Metro. 

"Alhamdulillah kini sudah membaik. Kami masih memburu pelaku penembakan Bripka Samsul," jelas Kapolresta Metro AKBP Suresmiyati.

Diketahui, kawanan pencuri sepeda motor yang diperkirakan empat orang mendatangi rumah Samsul di Jl. Ikan Emas, Yosodadi, Metro Timur, pukul 13.00 WIB.

Saat itu, Samsul baru pulang shalat dengan sepeda motor jenis matic. Sesaat usai memarkir kendaraannya di teras rumah, terdengar suara gaduh dari luar. Samsul bergegas keluar, tepat saat pelaku sedang mengutak-atik motornya.

Melihat pelaku kabur, naluri polisi korban keluar. Ia berusaha membekuknya. Namun, dua rekan pelaku lain yang menunggu di luar rumah langsung menghadang. Terjadilah pergumulan yang tidak seimbang. Apalagi setelah penjahat lainnya menembak paha kiri korban.

Meski begitu, Samsul tak menyerah. Ia tetap memberi pelawanan. Hal ini membuat pelaku marah dan kembali menembak perutnya. Alhasil, korban roboh. Sedangkan, pelaku kabur. Warga yang mengetahui kejadian itu langsung membawa korban ke RSU Ahmad Yani.

Ini adalah kali kedua dalam dua pekan penjahat berani menyatroni rumah polisi. Sebelumnya, dua kriminal berupaya menggasak motor Yamaha Mio anggota Polsek Pekalongan Hendra di Jl. Tawes Yosodadi, Metro Timur.  

Kunci kontak kendaraan telah dirusak dengan kunci letter T. Namun, aksi keduanya kepergok lewat CCTV. Korban pun keluar. Namun ia terpaksa mundur melihat tersangka Wondo (18), warga Desa Tanjungaji, Melinting, mengacungkan pistol. Setelah mengambil senjatanya, ganti korban menodong Wondo dan rekannya, Juanda (18), juga warga Desa Tanjungaji.

Hal itu membuat nyali kedua tersangka ciut, karena belakangan diketahui pistol yang mereka bawa hanya mainan. Tersangka kabur dengan Yamaha Mio tanpa nomor polisi. Tetapi, korban terus mengejar. Kejadian dilihat warga setempat yang bergegas ikut mengejar. Sementara masyarakat yang lain menghubungi Polresta Metro.

Meski jejak pelaku sempat hilang, akhirnya tersangka ditemukan hendak kabur melompati pagar rumah warga. Upayanya gagal ketika satu butir timah panas bersarang di kaki kanannya. Sementara, Wondo ditangkap ketika bersembunyi di atas menara (tower) penampungan air milik warga. (*)