BANDAR LAMPUNG – Akibat dari musim kemarau panjang yang melanda berbagai wilayah di Indonesia, termasuk di Lampung, mulai berdampak buruk. Seperti yang terjadi di Kota Bandar Lampung, ibukota Provinsi Lampung.
Debit air Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Way Rilau Kota Bandar Lampung terjadi penurunan hingga 5 persen dari normalnya, akibat mulai keringnya sumber air yang dimiliki. Sementara sumur-sumur warga di sejumlah wilayah di Kota Bandar Lampung mulai kering dan warga kesulitan air bersih.
Kepala Humas dan Hukum PDAM Way Rilau Rozi Amri mengatakan, kemarau yang berlangsung sejak awal Juni lalu menyebabkan debit air PDAM Way Rilau mengalami penurunan hingga 4-5 persen.
"Debit air mengalami penurunan 4 sampai 5 persen yang berasal dari 3 sumber air dengan total 560 liter perdetik. Perinciannya dari air permukaan 450 liter per detik, mata air 90 liter per detik dan sumur bor atau sumur dalam 20 liter per detik," jelasnya, Sabtu (1/8/2015).
Sebaliknya, pemakaian air oleh pelanggan mengalami peningkatan. Untuk memenuhinya, pihak PDAM Way Rilau berupaya melayaninya dengan melakukan sistem jam alir yang bergiliran atau pengurangan waktu alir yang biasanya 24 jam.
"Sekarang hanya bisa beberapa jam saja sehingga pemerataan bagi pelanggan dalam mendapatkan air," jelasnya seraya mengimbau pelanggan bijaksana dan seefisien mungkin menggunakan air.
PDAM Way Rilau terus berupaya menambah debit air melalui kerja sama dengan pihak swasta. Bila kerjasama sudah terealisasi akan menambah debit air 60 persen.
Kesulitan Air
Sejumlah wilayah di Kota Bandar Lampung juga mengalami kesulitan air bersih. Di Perumahan Griya Abdi Negara, Kecamatan Sukabumi, misalnya, banyak sumur gali warga yang sudah menyusut airnya sehingga tidak mencukupi kebutuhan rumah tangga.
Andi, warga setempat mengaku, sumurnya sedalam 8 meter sudah menyusut airnya sehingga sudah tidak cukup untuk kebutuhan sehari-hari. Untuk itu ia terpaksa membeli air galon untuk minum dan memasak, sementara air sumur hanya untuk mandi dan cuci.
“Terpaksa ada pengeluaran baru beli air galon untuk minum dan memasak karena air sumur sudah tidak cukup,” ujarnya.
Sementara warga Jalan H Jamaludin, Kecamatan Tanjungkarang Timur, Bandar Lampung terpaksa mengambil air di sumur bor di Masjid Sidratul Muntaha karena rata-rata sumur mereka sudah kering.
Para warga khawatir jika kemarau berkepanjangan persediaan air di sumur bor di Masjid Sidratul Muntaha juga habis, seperti dilansir Sinarharapan.
“Kalau kemaraunya berlanjut dikhawatirkan persediaan air di masjid juga habis karena diambil warga terus,” ungkap seorang warga. Mereka berharap ada bantuan air bersih dari Pemerintah Kota Bandar Lampung.
“Kami berharap adanya bantuan air bersih dari Pemkot, saat kemarau kayak gini,” pintanya. (*)
