Notification

×

Mapas! Seruit Lampung Masuk Warisan Budaya Tak Benda

23 September 2015 | 5:25 AM WIB Last Updated 2015-09-22T22:26:47Z
Seruit. (foto: istimewa)

LAMPUNG - Masyarakat Lampung patut bangga. Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif mengabarkan lima produk budaya Lampung telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia.

Hal ini seperti diungkapkan mantan Kepala Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Provinsi Lampung, Herlina Warganegara, selepas dirinya tidak lagi menjabat, Senin (21/9/2015) malam.

Kelima produk budaya Lampung yang mendapatkan ketetapan Warisan Budaya Tak Benda yaitu untuk kuliner terdiri dari Seruit dan Gulai Taboh, untuk kerajinan tangan dalam bentuk pakaian yakni Sulam Usus, serta kegiatan adat Cakak Pepadun dan Sekura Cakak Buah.

"Alhamdulillah, kelimanya sudah ditetapkan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan tadi pagi (kemarin)," kata wanita berkacamata itu.

Sementara untuk penyerahan sertifikat dan tanda penghargaan terkait hal tersebut di atas, direncanakan pada 20 Oktober. Penyerahan nantinya akan dilakukan di kantor kementerian.

Herlina mengungkapkan, upaya pengajuan produk budaya Lampung untuk menjadi nominasi Warisan Budaya Tak Benda sudah dilakukan sejak awal tahun. Sederet proses seleksi administrasi berupa penyertaan dokumen seperti foto, video dan tulisan juga dites tanya jawab dilaksanakan untuk memastikan itu asli dari Lampung.

"Prosesnya cukup panjang, kita bekali dengan dokumen dan presentasi di hadapan tim kementerian. Dan hasilnya alhamdulillah," jelas Herlina.

Masuknya Sulam Usus, Seruit dan Gulai Taboh kali ini menambah daftar Warisan Budaya Tak Benda yang dimiliki Lampung. Sebelumnya di tahun 2014, Lampung juga telah mendapatkan pengakuan untuk Tapis, Gamolan Pekhing, Tari Melinting, Tari Sigekh Penguten, Muayak dan Rumah Adat Lampung Barat.

"Mudah-mudahan tahun yang akan datang lebih banyak lagi produk juga kesenian Lampung yang diakui," harap Herlina, seperti dilansir Tribunlampung.

Ia mengakui hal ini untuk menjaga agar kebudayaan Lampung tidak punah dan terus dapat dikembangkan. 

"Masih banyak budaya Lampung yang bakal kita ajukan, seperti Meduaro dari Tulangbawang, Sulam Ulat dari Mesuji, Ringgit, Bebandung dan banyak lagi yang akan dicatat di Unesco nantinya," urai Herlina. (*)