Notification

×

Waspada! Akun Palsu Peretas Incar Pengguna LinkedIn

04 December 2015 | 1:03 PM WIB Last Updated 2015-12-05T06:03:31Z
(foto: reuters)

LAMPUNG ONLINE - Twitter dan Facebook juga banyak akun palsu, tapi LinkedIn menarik para peretas.

Sejumlah peretas sengaja menyasar para pengguna jejaring profesional LinkedIn, menurut firma keamanan internet Symantec.

Penyelidikan yang dilakukan perusahaan itu menemukan puluhan akun palsu yang ada dalam berbagai bidang industri.

Dengan berpura-pura menjadi perekrut, akun palsu ini membuat para peretas bisa memetakan jaringan para profesional dan mengambil keuntungan dari orang yang percaya pada mereka.

Symantec kini bekerja dengan LinkedIn untuk menghapuskan akun palsu yang berhasil mereka kenali.

Dengan membuat peta ini, para peretas ini bisa membuat para pengguna memberi data pribadi mereka, mengarahkan kepada situs yang penuh dengan malware.

Jika bisa mendapat alamat email, mereka bisa meluncurkan email yang memancing dibukanya data pribadi (phishing).

"Kebanyakan akun palsu ini cukup berhasil membuka jaringan, ada yang bisa mendapat 500 kontak. Beberapa bahkan mendapat sokongan dari pengguna lain," kata peneliti Symantec, Dick O'Brien, seperti dilansir BBC, Jumat (4/12/2015).

Menarik peretas

Para peneliti menemukan akun palsu ini dibuat berdasar profil pengguna sebenarnya. Mereka menggunakan foto, kebanyakan perempuan, dari situs penerbit foto atau diambil dari foto orang lain.

Kata kunci yang digunakan terkait logistik, keamanan informasi serta industri gas dan minyak, kata Symantec.

O'Brien memberi tips untuk pengguna LinkedIn yang khawatir telah terhubung dengan peretas.

"Anda bisa melacak gambar mereka melalui fasilitas Google Images dan lihat saja apa yang muncul," katanya.

Twitter dan Facebook juga punya masalah dengan akun palsu, tapi LinkedIn yang tampaknya menarik perhatian para peretas, kata O'Brien.

"Ini memperlihatkan kecanggihan para penjahat online. Mereka siap bermain jangka panjang untuk mendapat informasi untuk serangan di masa depan," kata O'Brien lagi.

Bulan Oktober lalu, peneliti dari Dell berhasil mengidentifikasi jaringan 25 akun palsu yang terhubung dengan 200 akun asli, yang dimiliki oleh para pekerja di bidang pertahanan, telekomunikasi, pemerintahan dan fasilitas umum. (*)