![]() |
| Wali Kota Bandar Lampung, Herman HN (berpeci) memantau penumpang yang diangkut BRT (foto: RRI) |
BANDAR LAMPUNG - Akibat jalur angkutan kota (Angkot) diubah, sejumlah angkot berbagai trayek dalam Kota Bandar Lampung melakukan aksi mogok, Selasa (1/3/2016). Para sopir angkot menyesalkan tindakan Wali Kota Bandar Lampung, Herman HN, yang terus mempertahankan keputusannya, dengan mengubah jalur angkot.
"Ini bentuk protes lanjutan kami kepada wali kota. Kami tidak main-main, karena ini menyangkut mata pencaharian kami untuk keluarga," ujar sopir angkot trayek Kemiling-Tanjungkarang, Suwardi.
Dia meminta maaf kepada masyarakat yang merasa kesulitan untuk beraktifitas pada hari kerja dan sekolah. Menurut Suwardi, aksi mogok lanjutan ini demi kebaikan semua, baik sopir angkot maupun masyarakat atas keputusan wali kota yang telah merubah rute lama, sehingga mengurangi pendapatan sopir.
Aksi mogok angkot ini berlangsung sejak pagi. Angkot yang mogok yakni trayek Kemiling, Rajabasa, Pahoman, Sukarame, dan Teluk Betung. Akibatnya, para pegawai negeri dan swasta yang biasa menggunakan angkot terlantar di jalanan.
Sedangkan anak-anak sekolah terpaksa menggunakan jasa ojek meski harus membayar mahal. Masyarakat yang hendak ke pasar pun menjadi terganggu dengan aksi mogok angkot tersebut. Para pedagang yang biasa membawa barang dagangan seperti sayur untuk dijual kembali ke berbagai pemukiman penduduk terpaksa naik ojek.
"Kalau naik ojek setiap hari bisa habis duit jajan," kata Yana, siswi SMP di Tanjung Karang. Ia biasa naik angkot ke sekolah dua kali dengan ongkos pergi dan pulang Rp 10 ribu. Sedangkan naik ojek, ia harus mengeluarkan uang sebesar Rp 20 ribu pulang-pergi ke sekolah.
Pada aksi mogok sehari sebelumnya, para sopir angkot yang tergabung dalam Persatuan Pengemudi Angkot Bandarlampung (P2ABL) Lampung, tidak menemui kata sepakat dengan Wali Kota Bandar Lampung, Herman HN. Wali kota tetap mempertahankan kebijakannya untuk mengubah jalur lalu lintas di pusat kota. Alasannya, untuk mengurai kemacetan lalu lintas.
"Ini bentuk protes lanjutan kami kepada wali kota. Kami tidak main-main, karena ini menyangkut mata pencaharian kami untuk keluarga," ujar sopir angkot trayek Kemiling-Tanjungkarang, Suwardi.
Dia meminta maaf kepada masyarakat yang merasa kesulitan untuk beraktifitas pada hari kerja dan sekolah. Menurut Suwardi, aksi mogok lanjutan ini demi kebaikan semua, baik sopir angkot maupun masyarakat atas keputusan wali kota yang telah merubah rute lama, sehingga mengurangi pendapatan sopir.
Aksi mogok angkot ini berlangsung sejak pagi. Angkot yang mogok yakni trayek Kemiling, Rajabasa, Pahoman, Sukarame, dan Teluk Betung. Akibatnya, para pegawai negeri dan swasta yang biasa menggunakan angkot terlantar di jalanan.
Sedangkan anak-anak sekolah terpaksa menggunakan jasa ojek meski harus membayar mahal. Masyarakat yang hendak ke pasar pun menjadi terganggu dengan aksi mogok angkot tersebut. Para pedagang yang biasa membawa barang dagangan seperti sayur untuk dijual kembali ke berbagai pemukiman penduduk terpaksa naik ojek.
"Kalau naik ojek setiap hari bisa habis duit jajan," kata Yana, siswi SMP di Tanjung Karang. Ia biasa naik angkot ke sekolah dua kali dengan ongkos pergi dan pulang Rp 10 ribu. Sedangkan naik ojek, ia harus mengeluarkan uang sebesar Rp 20 ribu pulang-pergi ke sekolah.
Pada aksi mogok sehari sebelumnya, para sopir angkot yang tergabung dalam Persatuan Pengemudi Angkot Bandarlampung (P2ABL) Lampung, tidak menemui kata sepakat dengan Wali Kota Bandar Lampung, Herman HN. Wali kota tetap mempertahankan kebijakannya untuk mengubah jalur lalu lintas di pusat kota. Alasannya, untuk mengurai kemacetan lalu lintas.
Herman HN Bertahan
Sementara, Wali Kota Bandar Lampung Herman HN mengatakan, meskipun kebijakan pengalihan jalur lalulintas kendaraan jalan di Kota Bandar Lampung mendapat protes dari para sopir dan pengusaha angkutan kota (Angkot) dirinya tidak akan membatalkan kebijakan tersebut.
"Kebijakan pengalihan jalur tersebut guna mengatasi kemacetan di kota Bandar Lampung. Itu semua untuk kepentingan masyarakat banyak, jadi silakan saja jika masih ada angkot yang mogok beroperasi," ujarnya.
"Kebijakan pengalihan jalur tersebut guna mengatasi kemacetan di kota Bandar Lampung. Itu semua untuk kepentingan masyarakat banyak, jadi silakan saja jika masih ada angkot yang mogok beroperasi," ujarnya.
Menurut wali kota yang kini menjabat di periode kedua itu, jika para pengemudi angkot tetap mogok beroperasi yang rugi bukan Pemkot Bandar Lampung atau masyarakat pengguna, tapi para sopir itu sendiri karena tidak ada penghasilan.
"Masyarakat yang biasa naik angkot bisa menggunakan Bus Rapid Transit (BRT) Trans Bandar Lampung. Di samping itu pemkot juga menurunkan bus opresional Polisi Pamong Praja untuk mengantisipasi adanya penumpang yang terlantar," jelas Herman HN. (dbs)
"Masyarakat yang biasa naik angkot bisa menggunakan Bus Rapid Transit (BRT) Trans Bandar Lampung. Di samping itu pemkot juga menurunkan bus opresional Polisi Pamong Praja untuk mengantisipasi adanya penumpang yang terlantar," jelas Herman HN. (dbs)
