![]() |
| Wan Abbas Zakaria |
LAMPUNG - Saat ini pemerintah dan masyarakat Indonesia sedang dihebohkan dengan berita keberadaan beras plastik atau sintetis. Bahkan, hampir seluruh masyarakat merasa was-was akan informasi tersebut. Lantas bagaimana tanggapan ahli terkait merebaknya isu tersebut?
Dekan Fakultas Pertanian Universitas Lampung (Unila) Prof. Dr. Ir. Wan Abbas Zakaria, M.S.N., menghimbau masyarakat Lampung khususnya di Bandar Lampung tak kuatir soal temuan beras plastik. Menurutnya, beras plastik adalah berita bohong (hoax) yang disebarkan oknum tak bertanggung jawab.
“Sejak nonton pemberitaanya saja saya sudah merasa aneh. Ketika salah seorang reporter menunjukkan perbedaan antara beras plastik dan beras asli,” kata Wan Abbas Zakaria, Minggu (24/5/2015).
Menurutnya, seperti dalam tayangan televisi, beras plastik terlihat lebih kental dan membentuk gumpalan. Sementara beras asli berbentuk seperti bubur.
“Dari situ harusnya sudah timbul pertanyaan, masa iya plastik kalau direbus bisa berubah jadi bubur? Itukan terkesan janggal,” tukas Wan Abbas.
Dijelaskannya, sifat utama plastik turunan hidrokarbon adalah hidrofobik (tidak suka air), karena bahan dasarnya adalah minyak bumi dan struktur kimianya nonpolar.
“Beras bisa lembek menjadi bubur karena menyerap air. Kalau ada bahan plastik di dalamnya mau direbus sampai kapan pun tidak akan menjadi lembek,” ungkapnya.
Wan Abbas pun membahas teori bahwa beras plastik dibuat dari kentang atau umbi yang dilapisi plastik.
"Kalau orang nyampur itu kan tujuannya mencari untung, sementara plastik ini lebih mahal dibanding beras, belum lagi ditambah campuran kentang yang juga lebih mahal,” jelasnya.
Wan Abbas menduga, polemik beras plastik sengaja dihembuskan untuk memukul omzet pedagang beras lokal. Akibat adanya isu beras plastik, kepercayaan konsumen terhadap pasar tradisional menurun. Omzet pedagang beras pun anjlok.
“Kasihan kan, apalagi sidak ini dilakukannya di pasar-pasar tradisional. Pedagang dan konsumen sama-sama resah,” katanya seperti dilansir Harianlampung.
Menyikapinya, Wan Abbas meminta pemerintah fokus mengembangkan pertanian lokal, agar bisa memenuhi kebutuhan dalam negeri tanpa perlu beras impor.
“Buktinya di Bandar Lampung ini belum ada temuan beras plastik kan? Karena mayoritas kebutuhan kita dipenuhi dari petani lokal di Lampung Timur dan Lampung Selatan,” katanya.
Namun Wan Abbas tidak langsung menutup kemungkinan beras plastik benar-benar ada.
“Banyak kemungkinannya, kita tunggu hasil uji lab saja. Sementara ini kita percaya saja Badan Ketahanan Pangan dan Pelaksana Penyuluhan (BKP3) Kota Bandarlampung sebagai tameng terakhir membatasi peredaran beras plastik itu,” katanya. (*)
